Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, memendam kekaguman mendalam pada sosok proklamator kita, Soekarno, sejak ia masih muda.
Kekaguman Sayyid Ali Khamenei terhadap Soekarno bukanlah pemanis diplomasi semata. Perasaan segan dan hormat ini telah tumbuh sejak sang pemimpin tertinggi Republik Islam Iran itu masih berusia muda.
Wakil Presiden Republik Indonesia ke-11, Boediono, bersaksi langsung mengenai hal ini saat melawat ke Teheran pada Jumat, 31 Agustus 2012 silam.
Dalam pertemuan tertutup yang dijaga ketat oleh militer Iran, Khamenei bernostalgia. Ia menceritakan bagaimana suara lantang dan pidato berapi-api Bung Karno menembus batas negara dan singgah di telinganya.
“Ayatullah Ali Khamenei mengaku mendengar pidato Bung Karno ketika muda, dan amat terkesan pada sosok beliau,” ungkap Boediono kepada awak media di Wisma Duta, Teheran.
Menghormati “Ahmad Soekarno” di Mimbar Dunia
Rasa hormat Khamenei kembali memuncak saat ia membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non-Blok (GNB) di Teheran, sehari sebelum pertemuannya dengan Boediono.
Di hadapan para delegasi negara-negara dunia, Khamenei dengan bangga menyebut nama Soekarno, atau yang akrab ia panggil dengan nama “Ahmad Soekarno”.
Khamenei secara khusus mengutip pidato historis Soekarno pada Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Ia mengingatkan dunia bahwa GNB berdiri bukan sekadar karena kedekatan wilayah semata, melainkan karena panggilan nasib untuk merdeka dari penindasan.
“Tapi, seperti yang dikatakan Ahmad Soekarno… dasar dari pendirian Gerakan Non-Blok bukanlah kesamaan geografis, rasial, atau relijius, melainkan adanya kesamaan kebutuhan,” tegas Khamenei.
Pernyataan ini membuktikan bahwa Khamenei menjadikan pemikiran Soekarno sebagai landasan logis untuk terus melawan hegemoni global.
Membela Falsafah Soekarno di Balik Jeruji Besi
Kekaguman Khamenei tidak hanya ia tunjukkan di mimbar megah, tetapi juga teruji di masa-masa sulit perjuangan hidupnya. Melalui buku Art of Humanism Religius Iran, Khamenei mengisahkan pengalamannya saat mendekam di tahanan rezim Syah Pahlevi. Di sana, ia menggunakan pemikiran Soekarno untuk mematahkan argumen seorang tahanan berhaluan sosialis-komunis dari Partai Baats.





