Di balik perlawanan sengit Iran terhadap AS dan Israel, mengalir napas perjuangan Soekarno yang kuat menginspirasi bangsa Persia.
Dalam lembar sejarah politik dunia, batas negara sering kali pudar oleh kuatnya sebuah gagasan. Seorang pemimpin sejati tidak ragu menyerap kebijaksanaan dari bangsa lain, bahkan dari tokoh yang hidup di rahim budaya yang berbeda.
Fakta ini terwujud nyata ketika para pemimpin tertinggi Iran secara terbuka mengagumi pemikiran Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dan menjadikannya jangkar dalam mengarungi badai revolusi serta konfrontasi geopolitik.
Fenomena ini menyadarkan kita pada satu hal: ide kepemimpinan memiliki daya tembus universal. Ketika poros perlawanan Iran hari ini berdiri tegak menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel, kita sebenarnya bisa melihat pantulan spirit perjuangan bangsa kita sendiri di sana.
Seni Menguntai Persatuan di Balik Jeruji Penjara
Tahun 1974, di sebuah sel tahanan sempit berukuran 2,2 x 1,8 meter di Teheran, rezim Syah Pahlevi mengurung dua pemuda dengan ideologi yang berseberangan. Satu adalah Sayyid Ali Khamenei, seorang ulama muda yang taat. Satu lagi adalah seorang loyalis sosialis-komunis yang fanatik.
Di malam pertama, jurang ideologi itu tampak tak terjembatani. Sang sosialis membuang muka saat melihat Khamenei mendirikan salat Magrib. Ia enggan membalas salam. Namun, Khamenei tidak menyerah pada kebekuan itu. Ia melontarkan sebuah ingatan sejarah yang perlahan meruntuhkan tembok arogansi di antara mereka.
Khamenei menyitir pidato Soekarno di Konferensi Asia-Afrika Bandung. Ia berkata kepada rekan satu selnya, “Ahmad Soekarno pernah mengatakan bahwa yang mengumpulkan kita di sini bukanlah kesamaan agama, ideologi, atau ras, melainkan kesamaan kebutuhan (waktu itu kebutuhan untuk merdeka).”
Khamenei kemudian melanjutkan argumennya. Ia menegaskan bahwa mereka berdua memiliki kebutuhan yang sama: bertahan hidup dari siksaan rezim yang korup.
Jika narasi persatuan ala Soekarno mampu menggerakkan negara-negara dunia di Bandung, maka narasi itu pasti mampu menyatukan dua manusia di ruang tahanan yang sempit. Ucapan itu bekerja layaknya sihir.
Tahanan sosialis itu luluh. Keduanya bersahabat dan kelak bahu-membahu membangun negara pasca-revolusi.
Kisah ini Khamenei kenang kembali dalam pidato resminya pada 19 April 1990. Sang ulama muda itu kini telah menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, sementara rekan satu selnya yang dulu keras kepala, Abolhasan Bani Sadr, sempat menjabat sebagai Presiden pertama Iran. Soekarno, dari kejauhan ribuan kilometer, telah menyatukan mereka.
Menyemai Humanisme Religius di Tanah Persia
Sering kali publik menganggap kepemimpinan hanya berkutat pada kebijakan teknis—ekonomi, militer, atau diplomasi. Padahal, jantung dari kepemimpinan adalah kemampuan menanamkan narasi.
Soekarno sangat menguasai seni ini. Ia paham bahwa bangsa yang majemuk tidak bisa bersatu hanya lewat institusi negara; mereka butuh cerita besar yang mengikat jiwa.
Pancasila lahir dari kesadaran tersebut. Konsep Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi payung yang menaungi seluruh perbedaan.
Menariknya, para pemimpin Revolusi Islam Iran mengadaptasi semangat serupa. Imam Khomeini dalam bukunya “Wilayatul Faqih” bahkan menyebut Soekarno sebagai manusia besar dalam sejarah.
Iran pasca-revolusi tidak lantas berubah menjadi negara teokrasi yang kaku dan eksklusif. Mereka membangun struktur negara berbasis humanisme religius. Konstitusi Iran menjamin kebebasan dan bahkan memberikan jatah kursi parlemen secara gratis untuk agama-agama minoritas seperti Zoroaster, Yahudi, dan Nasrani.
Mereka menyadari bahwa negara tanpa dasar ketuhanan membuat manusia kering bagai robot, namun negara yang menindas keberagaman atas nama satu agama akan hancur dari dalam. Inilah mengapa Iran tetap kokoh menjaga kohesi sosialnya, tidak seperti negara-negara Timur Tengah lain yang hancur berkeping-keping akibat perang saudara sektarian.
Spirit Juang Dunia Ketiga dalam Konflik Iran VS AS-Israel
Kini, relevansi pemikiran Soekarno menemukan panggung barunya. Eskalasi militer antara Iran melawan Israel yang didukung penuh oleh Amerika Serikat—terutama pasca-krisis Gaza 2024-2025—bukan sekadar konflik bersenjata biasa. Ini adalah manifestasi pertarungan ideologi modern.
Jika Soekarno masih hidup hari ini, ia tentu tidak melihat posisi Iran semata-mata dari kacamata solidaritas Islam, apalagi memperdebatkan tembok mazhab Syiah dan Sunni. Sang Proklamator akan melihat perlawanan Iran sebagai kelanjutan dari moralitas Dunia Ketiga yang menolak tunduk pada neo-imperialisme.
Bagi Soekarno, membela bangsa-bangsa kecil dari tekanan kekuatan asing adalah kewajiban sejarah. Hujan rudal balasan dari Iran ke jantung pertahanan militer Israel dapat dibaca melalui kacamata “Nefos” (New Emerging Forces) yang berani menggugat kemapanan “Oldefos” (Old Established Forces). Dominasi Barat yang menguasai narasi internasional, ekonomi, dan militer, sedang ditantang secara terbuka oleh negara yang menolak didikte.
Keberanian Iran melawan hegemoni Barat mencerminkan intisari perjuangan Soekarno. Ia pernah menjadikan Iran pada era 1950-an sebagai simbol kemungkinan harmonisasi antara agama, nasionalisme, dan perlawanan anti-penjajahan. Hari ini, Iran mengeksekusi visi perlawanan tersebut di dunia nyata.
Menoleh ke Dalam, Menemukan Kembali Jati Diri
Ironi terbesarnya justru terletak di rumah kita sendiri, Indonesia. Sering kali kita meremehkan warisan pemikiran bangsa. Kita lebih fasih mengutip teori kepemimpinan dari Barat, lalu membiarkan gagasan raksasa seperti Pancasila hanya menjadi hapalan upacara tanpa roh. Lebih parah lagi, kita kerap melihat kelompok yang mengatasnamakan Pancasila justru menggunakannya untuk memberangus nalar kritis dan perbedaan.
Fakta bahwa Ayatollah Ali Khamenei dan Imam Khomeini menjadikan ideologi Soekarno sebagai kompas perjuangan mereka seharusnya menampar kesadaran kita. Ideologi yang kuat dapat melintasi benua, menembus perbedaan ras, dan mematahkan jeruji penjara.
Jika para pemimpin dunia yang kini sedang mempertaruhkan nyawa dan negaranya melawan hegemoni global saja masih menggali kekuatan dari buku-buku Soekarno, sudah saatnya kita membersihkan debu dari sejarah kita sendiri. Bukan untuk terjebak nostalgia masa lalu, melainkan untuk membangkitkan kembali napas perjuangan yang pernah membuat Indonesia berdiri tegak dan disegani oleh dunia.***
Daftar Pustaka
Khamenei, Ali. (1990). Pidato Kenegaraan di hadapan Rakyat Iran (19 April 1990). Arsip Sejarah Revolusi Islam Republik Islam Iran.
Khomeini, Ruhollah. (1970). Hukumat-e Islami: Wilayat al-Faqih (Pemerintahan Islam: Otoritas Ahli Fikih). Teheran: Amirkabir Publications.
Book Art of Humanism Religius Iran. (Referensi memori kolektif tokoh revolusi Iran tentang interaksi dalam tahanan rezim Syah Pahlevi).
Kementerian Luar Negeri RI. Arsip Hubungan Diplomatik Indonesia-Iran (1950-1960). Sejarah Kerja Sama Bilateral Asia-Afrika.





