Tahanan itu awalnya enggan merespons Khamenei. Namun, ketika Khamenei memancing dengan menyebut nama Soekarno, pria itu langsung antusias dan mengklaim Soekarno sebagai bapak humanis sosialis yang mendirikan negara tanpa dasar agama. Dengan lugas dan berani, Khamenei segera meluruskan pandangan keliru tersebut demi membela kehormatan ideologi sang proklamator:
”Anda salah. Bahwa Soekarno memang betul bapak humanisme sosialis, tapi Soekarno bukanlah seorang komunis dan negara beliau tidak berdasarkan agama, tapi negara beliau berdasarkan ketuhanan dimana semua manusia wajib bertuhan sebagai dasar kebangsaan.”
Penjelasan Khamenei—yang ia pelajari dari seorang pedagang Indonesia di Iran—begitu kuat hingga membuat kawan selnya menitikkan air mata. Tahanan yang kelak menjadi inisiator revolusi Iran itu bertekad mempelajari buku-buku Soekarno demi membangun Iran yang menjunjung humanisme agama.
Mewarisi Semangat Perlawanan
Kekaguman Khamenei kian paripurna karena ia melihat kemiripan visi perlawanan Soekarno dengan keyakinannya. Bung Karno menolak imperialisme dengan meneladani semangat keadilan Imam Husain di Padang Karbala. Khamenei membawa obor yang sama. Bagi Khamenei, Soekarno adalah contoh nyata pemimpin berani yang konsisten menentang penindasan kolonialis dan zionis di muka bumi.
Bahkan, pengamat Timur Tengah Zuhairi Misrawi mengamati bahwa Iran hari ini sukses bertahan dari sanksi dunia Barat justru karena mereka mempraktikkan ajaran Trisakti Soekarno. Mereka membangun kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian budaya secara utuh, layaknya visi awal sang proklamator.
Kharisma yang Melintasi Zaman
Kisah Sayyid Ali Khamenei membuktikan bahwa kharisma Soekarno tak pernah lekang oleh waktu. Sosok Bung Karno bukan sekadar lembaran sejarah kebanggaan bangsa Indonesia, melainkan sumber mata air inspirasi bagi para pemimpin dunia yang memperjuangkan kemerdekaan sejati.
Khamenei merawat ingatan tentang Soekarno, menjadikannya lentera perlawanan, dan meletakkannya di tempat yang teramat istimewa dalam sejarah perjuangan bangsanya.***





