Menguji Validitas Data: Sukarno Lahir di Surabaya atau Ploso?

ILUSTRASI ini dibikin dengan AI | Samudrafakta
Ada dua hal di Indonesia yang tidak akan pernah bisa disepakati secara tuntas: siapa sebenarnya backing mafia beras, dan di mana tepatnya Bung Karno dilahirkan. Yang pertama biarlah jadi urusan KPK. Yang kedua, mari kita bahas sekarang—dengan serius tapi tidak kaku. Karena kalau sejarah jadi tegang terus, bisa ‘keram intelektual’.

— Oleh: Faried Wijdan | Pengelola Pabrik Aksara - Penulis Samudrafakta

‘Mazhab Surabaya’: Sang Proklamator Lahir di Kota Pahlawan?

Pendukung teori “Bung Karno lahir di Surabaya” bersandar pada dokumen dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB). Katanya, beliau terdaftar dengan tempat lahir Surabaya dan tahun kelahiran 1902. 

Tapi, tunggu dulu—kenapa tahun 1902, padahal seharusnya 1901?

“Ah, itu cuma akal-akalan bapaknya,” kata kubu Surabaya. Mereka bilang, usia Bung Karno sengaja “dimudakan” agar bisa masuk sekolah lebih cepat. Trik klasik orang tua zaman dulu: kalau anak belum cukup umur, tinggal geser sedikit tanggal lahir. Sah? Secara budaya, iya. Secara data? Agak licin.

Bacaan Lainnya

Tapi mari kita akui: jika tahun lahirnya saja bisa dimanipulasi, apa jaminan kotanya tidak ikut kena revisi?

Dan soal Surabaya, ada pidato Bung Karno sendiri saat menerima gelar Honoris Causa tahun 1964 di Unpad. Di situ beliau bilang, “Saya lahir di Surabaya, bukan Blitar!”—sebuah klarifikasi yang terdengar heroik… sampai kita sadar Blitar pun tidak ikut bertanding dalam pertarungan ini. Yang maju justru Ploso, Jombang.

Lalu, bagaimana dengan buku Cindy Adams, Penyambung Lidah Rakyat? Di situ tertulis Bung Karno lahir “di dekat Gunung Kelud.” Oke, mari buka Google Maps. Surabaya ke Gunung Kelud: 156 km. Ploso? Cuma 83 km. Kalau ini lomba lari, Surabaya sudah didiskualifikasi karena terlalu jauh dari start.

‘Mazhab Jombang’: Lahirnya di Ploso, Bukan di Poster

Kubu Jombang tidak main-main. Mereka punya kesaksian putri Bung Karno—dua sekaligus: Sukmawati dan almarhumah Rachmawati. Keduanya bilang, Bung Karno lahir di Jombang. Benar, memang tanpa menyebut koordinat GPS, tapi tetap saja: keluarga lebih tahu daripada buku pegangan ITB.

Lalu, ada pula dokumen tahun 1943 dari Gunseikanbu (pemerintah Jepang), di mana Bung Karno sendiri menulis riwayat pendidikannya dimulai di Ploso. Ini penting. Karena, kalau orang sudah jujur saat ditanya penjajah Jepang, bisa dipastikan dia tak sedang ngarang.

Dan terakhir, ada fakta bahwa ayah Bung Karno, R. Soekeni Sosrodihardjo, jadi mantri guru di Ploso sejak akhir 1901. Masa’, sih, anaknya lahir di Surabaya, sementara ayahnya kerja dan tinggal di Jombang? 

Ini bukan LDR zaman modern. Transportasi tahun 1901 belum cukup cepat untuk bolak-balik Ploso–Surabaya hanya demi kelahiran.

Buku vs Bukti

Mari kita bicara metodologi. 

Buku itu bukan saksi sejarah. Buku bisa salah kutip, salah tafsir, atau sekadar ikut-ikutan narasi yang sedang tren. Buku Cindy Adams, misalnya, ditulis berdasarkan wawancara puluhan tahun setelah kejadian. Layak dibaca, tapi jangan dianggap naskah suci.

Dokumen primer—tulisan tangan Bung Karno sendiri, pengakuan anak kandung, posisi geografis rumah dan sekolah orang tua—itu jauh lebih kredibel daripada selembar buku induk mahasiswa atau pidato kenegaraan yang mungkin diketik dengan tergesa di tengah jadwal padat revolusi.

Jadi, Bung Karno Lahir di Mana?

Kalau kita serius soal akurasi sejarah, jawabannya tampaknya condong ke Jombang. Tapi, kalau kita ingin mempertahankan narasi pahlawan yang lahir di Kota Pahlawan, ya, silakan pertahankan Surabaya. Tidak ada polisi sejarah yang akan datang menilang Anda.***

Pos terkait