‘Tour de Istri Menteri’: Ketika Surat Dinas Jadi Tiket Jalan-Jalan

ILUSTRASI ini dibikin dengan AI | Samudrafakta
Di balik surat resmi berkop kementerian, terselip kisah “perjalanan budaya lintas benua”. Lakonnya istri Menteri UMKM. Budaya siapa? Untuk kepentingan apa?

__________

Ada banyak cara memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia. Bisa lewat diplomasi formal, pertunjukan seni, atau, seperti yang sedang ramai dibicarakan: lewat kunjungan istri pejabat negara ke sejumlah kota Eropa, ditemani surat resmi dari Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Adalah Agustina Hastarini, istri Menteri UMKM Maman Abdurrahman, yang belakangan menjadi perhatian publik. Sebuah surat berkop Kementerian UMKM bertanggal akhir Juni 2025 tersebar luas di media sosial. Isinya menyebutkan rencana perjalanan Agustina ke beberapa kota di Eropa: Istanbul, Pomorie, Sofia, Amsterdam, Brussels, Paris, Lucerne, dan Milan.

Bacaan Lainnya

Agenda itu dijadwalkan berlangsung selama dua pekan, dari 30 Juni hingga 14 Juli 2025, dalam rangka “mengikuti kegiatan misi budaya”.

Yang membuat surat ini menjadi viral bukan hanya karena nama kota-kotanya terdengar seperti rute tur musim panas Eropa, tetapi juga karena redaksi surat tersebut menyebut secara eksplisit: “Kunjungan Istri Menteri UMKM Republik Indonesia.” Sementara Menteri Maman sendiri justru tak termasuk dalam rombongan.

Surat edaran dengan kop Kementerian UMKM bertuliskan keterangan ‘Kunjungan Istri Menteri UMKM Republik Indonesia’. | X

Tak heran jika publik bertanya-tanya: sejak kapan kegiatan istri menteri dikawal oleh surat resmi kementerian? Dan apakah misi budaya kini bagian dari program kerja UMKM?

Media sosial langsung riuh.

Akun @Murta*** yang pertama kali mengunggah tangkapan layar surat itu di platform X pada Jumat, 4 Juli 2025, memicu gelombang kritik.

Akun IG @ai*** menulis, “1. Kenapa Kementerian UMKM ngurusi misi kebudayaan? 2. Kenapa yg berangkat bukan menterinya tapi istrinya? 3. Emang ada fungsinya ya kementerian UMKM? Capek-capek bayar pajak buat bayarin liburan orang-orang begini.

Sementara akun @ill*** mempertanyakan format suratnya, “Minta jalan-jalan gratis berkedok mengikuti kegiatan misi budaya. Lagian aneh banget, naskah dinas judulnya ‘Kunjungan Istri Menteri’, bukan ‘Kunjungan Menteri’. Tidak malukah?

Netizen lainnya menyentil langsung substansi moral dari polemik ini. “Mbok ya punya MALU, Bu. Kalau mau jalan-jalan pakai uang pribadi aja, jangan uang negara,” tulis akun @arie***.

Menanggapi riuh rendah tersebut, Menteri Maman Abdurrahman memilih untuk merespons secara langsung. Pada Jumat, 4 Juli 2025, ia mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta Selatan. Kepada awak media, ia mengatakan: “Ini adalah bentuk pertanggungjawaban saya kepada bangsa dan negara.”

Ia juga menyebut kunjungannya ke KPK adalah inisiatif pribadi, dan menyatakan akan menyerahkan sejumlah dokumen terkait. Meski begitu, Maman belum merinci dokumen seperti apa yang akan disampaikan.

“Saya ingin menyerahkan beberapa dokumen untuk menuntaskan polemik isu yang beberapa hari ini berkembang terhadap diri saya dan keluarga saya,” ujarnya di depan pintu masuk Gedung Merah Putih.

Namun sampai hari itu, belum ada klarifikasi gamblang tentang apakah surat tersebut diterbitkan melalui prosedur resmi, dan apakah benar perjalanan sang istri dibiayai negara.

Yang terang, surat tersebut juga memohon dukungan dan pendampingan dari perwakilan diplomatik Indonesia di luar negeri, serta mencantumkan nama Menteri Maman sebagai salah satu pihak tembusan, bersama dua pejabat dari Kementerian Luar Negeri.

Menariknya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Roy Soemirat, dengan nada hati-hati memilih menjauh dari polemik. “Kemlu tidak terkait langsung dengan surat itu, kami tidak memiliki peran dalam perencanaan kunjungan tersebut,” ujar Roy pada Jumat, 4 Juli 2025.

Jika selama ini publik kerap memimpikan transparansi dan akuntabilitas pejabat negara, mungkin yang terjadi kali ini justru membuka bab baru: bagaimana perjalanan pribadi bisa bersalin rupa jadi misi budaya.

Sebuah pendekatan yang… kreatif.

Tapi tetap saja, seperti kata pepatah lama yang kini viral kembali: istri polah, suami kepradah (istri bertingkah, suami tanggung akibatnya–red). Dan di negeri ini, kadang surat dinas bisa lebih panjang langkahnya ketimbang program kerja.***

Pos terkait