Visa Haji Furoda Tidak Terbit, Perusahaan Travel Rungkad: Pemerintah Arab Saudi Sedang Tes Pasar?

Pengamat menduga, tidak terbitnya visa Haji Furoda tahun ini sebagai salah satu cara Pemerintah Arab Saudi untuk melakukan 'tes pasar' penyelenggaraan haji. | Ilustrasi oleh Sora/Samudra Fakta
Tiga Pola Haji Furoda

Terkait problematika Haji Furoda ini, Sekretaris Jenderal (Sekjen) AMPHURI, Zaki Zakariya Anshari, menyebut ada tiga pola umum yang biasanya diterapkan para penyelenggara Haji Furoda.

Pertama, langsung membayar tiket dan hotel lebih awal, baik secara penuh maupun sebagai deposit, karena percaya diri visa Furoda akan terbit.

“Penyelenggara seperti ini akan rugi, karena tiket dan hotel biasanya hangus,” kata Zaki, Ahad, 1 Juni 2025.

Bacaan Lainnya

Dia menambahkan, dalam skema ini, kerugian bisa mencapai Rp80 – Rp 100 juta per orang, jika visa gagal terbit dan berimbas gagal berangkat.

Kedua, lanjut Zaki, biro perjalanan yang relatif kecil dan belum berpengalaman cenderung membeli paket penuh dari pihak lain. Jika pihak tersebut tidak amanah, potensi kerugian bisa mencapai Rp300 juta per jemaah.

“Ini yang dikhawatirkan saat ini. Model kedua ini kerugian bisa Rp300 juta per orang,” ujarnya.

Ketiga, penyelenggara yang lebih berhati-hati biasanya tidak melakukan pembayaran tiket dan hotel sebelum visa Furoda benar-benar terbit. Dalam skema ini, dana jemaah tetap aman dan bisa dikembalikan 100 persen ketika visa tidak keluar.

“Model ketiga tidak ada kerugian sama sekali,” jelas Zaki.

Dia menambahkan, kegagalan pemberangkatan jemaah Furoda tidak hanya terjadi di satu asosiasi, tetapi juga terjadi pada penyelenggara yang tergabung di asosiasi lainnya.

“Asosiasi lain juga ada yang mendata anggota yang terdampak. Insya Allah nanti kita akan tahu data pastinya,” ucap Zaki.***

Pos terkait