Mengganti Popok, Menyentuh Surga: Kisah Pengabdian Petugas Haji di Tanah Suci

Tuduhan bahwa sebagian petugas haji sekadar “dompleng” ibadah kerap muncul saban musim haji. Namun, pengalaman Siti Maria Ulfa, seorang petugas haji yang bertugas melayani jemaah lansia dan disabilitas, seolah menjadi bantahan nyata. Ia membuktikan bahwa di tengah ribuan jemaah, masih banyak petugas yang melayani dengan sepenuh hati dan ketulusan.

____

Ulfa, begitu ia akrab disapa, bukan tokoh besar di kementerian. Ia hanya seorang Kepala Tim pada Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA) Kementerian Agama. Namun, tahun ini, ia mendapat amanah yang tak biasa: mendampingi para jemaah haji lansia dan difabel.

“Amanah ini bukan tugas biasa. Ini ladang pengabdian. Saya niatkan sepenuh hati ingin membantu tanpa pamrih, merawat mereka seolah-olah mereka adalah orangtua saya sendiri,” ujar Ulfa kepada laman Kemenag, dikutip pada Kamis, 26 Juni 2025.

Bacaan Lainnya

Sejak hari pertama bertugas, Ulfa menyadari, tugas pelayanan tak selalu identik dengan kemudahan akses ibadah. Berbeda dengan jemaah biasa, waktu dan energi para petugas lansia dan disabilitas lebih banyak tercurah untuk membantu, menuntun, dan memastikan para jemaah rentan ini tetap nyaman dalam menjalankan ibadah.

Nenek Difabel

Pengalaman spiritual Ulfa justru tumbuh dari peristiwa-peristiwa kecil. Bukan saat wukuf di Arafah atau tawaf di Ka’bah, melainkan saat ia menenangkan seorang nenek difabel yang terpisah dari anaknya karena beda jadwal keberangkatan akibat perbedaan perusahaan penyelenggara (Syarikah).

Ulfa dan timnya berinisiatif. Mereka berkoordinasi dengan Daker Madinah, mengatur ulang manifest keberangkatan, dan menyatukan keduanya di hotel transit. “Kami hanya ingin mereka bisa beribadah dengan tenang, bersama-sama,” ucapnya.

Ada pula kisah haru saat Ulfa menemani seorang nenek menuju Raudhah. Tubuh sang nenek lemah, namun matanya penuh semangat. Dengan kursi roda, Ulfa menuntunnya menyusuri lorong Masjid Nabawi, menembus kerumunan hingga sang nenek bisa bersujud di taman surga.

“Ketika beliau selesai salat, matanya basah. Saya pun tak kuasa menahan haru,” kenang Ulfa.

Pos terkait