Namun, pengalaman paling menyentuh terjadi saat ia harus mengganti popok seorang jemaah lansia yang mengalami kebocoran sejak dalam pesawat.
“Koper beliau belum datang. Ia hanya bisa meringkuk malu. Maka saya carikan pampers, saya bantu bersih-bersih dengan penuh rasa hormat,” ujarnya. Ketika sang nenek mencoba menyelipkan uang sebagai ucapan terima kasih, Ulfa menolaknya dengan lembut.
“Saya senang bisa membantu, Nek. Semoga sehat terus ya…”
Ibadah Pribadi
Ulfa mengakui, di tengah tugas yang padat, ia jarang mendapat kesempatan ibadah pribadi di tempat mustajab. Namun, bukan itu yang ia sesalkan.
“Kadang saya menangis diam-diam di malam hari. Bukan karena lelah, bukan pula iri melihat orang lain bisa berdoa lebih banyak. Tapi karena saya yang belum sempat sepenuhnya berbakti kepada orangtua sendiri, justru diberi kesempatan untuk berbakti kepada orangtua orang lain di Tanah Suci,” ucapnya lirih.
Pengalaman ini membuka ruang refleksi baru baginya. “Mungkin ini jalan yang Allah pilihkan agar saya belajar. Belajar mencintai, melayani, dan menyentuh langit lewat pengabdian yang sunyi.”
Ulfa berharap ke depan layanan bagi jemaah lansia dan difabel lebih dipermudah, khususnya dalam hal penggabungan pendamping dari Tanah Air. Ia menekankan pentingnya pendampingan emosional di samping logistik. “Kami ini terbatas secara jumlah, tapi cinta dan empati tak pernah terbatas kalau benar-benar diniatkan,” katanya.
Dari Madinah hingga Makkah, dari setiap kursi roda yang ia dorong, Ulfa belajar bahwa puncak spiritual tak selalu berbentuk tempat. Tapi hadir sebagai perasaan yang menyentuh, saat hati benar-benar luruh dalam pelayanan.
“Inilah ladang ibadah kami. Dan saya bersaksi, bahwa banyak teman-teman petugas telah menjalankan tugasnya dengan sepenuh jiwa, raga, bahkan nyawa—di tengah padatnya manusia dan teriknya mentari di Tanah Haram.”
Wallahu a’lam.***





