Sunan Giri (2): Ulama Sekaligus Raja Penyebar Islam hingga Indonesia Timur

Berdakwah hingga Indonesia Timur

Dengan kedudukan gandanya sebagai rohaniwan (pandhito) sekaligus raja (ratu), Sunan Giri jauh lebih leluasa dalam berdakwah sehingga jangkauan wilayah dakwahnya sangat luas. Menurut M. Ali, dalam Sedjarah Perjuangan Feodal Indonesia (1963), peran raja-raja dalam membantu usaha dakwah Wali Songo dalam menyiarkan Agama Islam sangat besar, di mana salah satu di antara raja-raja tersebut adalah Sunan Giri.

Sunan Giri adalah aktor utama proyek Islamisasi Indonesia timur. Hilful Fudhul Sirajuddin Jaffar dalam buku Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur (2020) menyatakan bahwa Islamisasi di Indonesia Timur gelombang pertama dilakukan oleh “jejaring Giri”  yang dipimpin oleh Sunan Giri. Pernyataan Hilful ini menguatkan hipotesis yang menyatakan bahwa islamisasi yang dilakukan oleh Wali Songo tidak hanya sekadar di Pulau Jawa, tetapi menyebar ke seluruh Nusantara. Wali Songo adalah jejaring besar yang memiliki banyak cabang berupa jejaring-jejaring kecil di daerah-daerah luar Jawa, seperti “jejaring Giri” di Indonesia Timur.

Barulah pada gelombang Islamisasi kedua muncul tokoh-tokoh dari kalangan sayyid dalam jejaring ulama Hadramaut. Setelah itu, berlanjut ke zaman kesultanan, zaman ketika Islam telah kuat di Indonesia Timur.

Bacaan Lainnya

Hilful mendasarkan tulisannya kepada berbagai naskah lokal serta sejarah lisan yang berkembang di timur. Menurut Hilful, proses Islamisasi yang terjadi di timur tidak bisa dilepaskan dari jejaring Wali Songo di Jawa. Hal itu dibuktikan dengan munculnya tokoh sentral dalam pengislaman beberapa daerah timur seperti Datuk Ri Bandang yang merupakan murid dari Sunan Giri. Keterangan itu termuat dalam naskah Panombo Lombok halaman 11.

Dalam naskah Panombo Lombok diterangkan bahwa Islam di Lombok disebarkan langsung oleh Sunan Giri. Sedangkan menurut naskah BO Sangaji Kai, dikatakan bahwa Islam masuk di sana melalui utusan dari Gowa, yaitu Datuk Ri Bandang. Walaupun ada perbedaan, tetapi tetap saja Sunan Giri menjadi tokoh kunci penyebaran islam di timur, karena Datuk Ri Bandang, sebagaimana dicatat dalam Panombo Lombok halaman 29, adalah murid Sunan Giri.

Sementara itu, proses islamisasi di Kerajaan Maluku dan Tidore yang pada awalnya dilakukan oleh ulama dari Jawa bernama Maulana Husyain, dilanjutkan oleh murid Sunan Giri bernama Tuhubahalul. Hingga akhirnya Sultan Zainal Abidin, Raja ke-18 Kerajaan Tidore sekaligus Sultan Pertama Ternate (1486-1500 M) nyantri di Giri untuk memperdalam ilmu agama. Setelah itu, upaya Zainal Abidin dilanjutkan oleh sultan-sultan berikutnya, termasuk di antaranya Sultan Babullah (Raja ke-24 Maluku/Sultan ke-7 Ternate). Maka, tersebarlah Islam di Ternate dan wilayah Indonesia timur lainnya, hingga ke Bima, Nusat Tenggara Timur.

Menurut Ahmad Baso, penulis yang konsen di ,enelaahan naskah klasik Nusantara, Giri Kedaton menjadi sentra pendidikan kaum bangsawan Muslim dari wilayah timur. Seorang pangeran bakal dikirim ke Giri Kedaton yang berlokasi di Gresik, belajar agama dan tata negara, sebelum kemudian dilantik menjadi raja di wilayahnya. Raja-raja kepulauan Maluku, Sulawesi, dan Sumbawa banyak menempuh pendidikan di Giri Kedaton. Sementara para santri lainnya diutus Sunan Giri menebarkan Islam di Gowa, Tallo, Bali, Sumbawa, Ternate, Banjar dan beberapa kepulauan lain—termasuk di kawasan pesisir Papua.

Makam Sunan Giri. (Dok.)

Fakta dan realita sejarah ini menjadi informasi penting bahwa Islam berkembang di Nusantara bukan melalui perang dan tetes darah. Islam menyebar melalui peran para ulama yang saling berjejaring, baik via jejaring keturunan atau keilmuan. Fakta ini juga membantah asumsi yang termuat dalam film Jejak Khilafah (2020) yang menyebut bahwa Islam di Nusantara berhasil menyebar karena pengaruh Kerajaan Turki Usmani. [—bersambung]

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)  

Pos terkait