Kisah Veteran Tertua di Jawa Timur, Berusia 104 Tahun

Veteran Tertua di Jawa Timur
Amad (kanan), veteran tertua di Jawa Timur. (Samudrafakta)

Usianya 104 tahun, langkahnya masih tegak. Amad adalah satu-satunya veteran Jawa Timur yang terlibat perang 1945 dan masih hidup. Ia saksi sejarah perobekan bendera di Hotel Yamato.

Usianya sudah menginjak 104 tahun. Meski agak melambat ketika melangkah, namun langkahnya tetap tegak tanpa bantuan tongkat. Ia adalah Amad, sosok veteran saksi sejarah perobekan bendera di hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) Surabaya, pada tahun 1945 silam.

Daya ingat Amad juga masih tajam tentang pertempuran di zaman penjajahan. Ia mampu bercerita secara detail tentang kisah hidupnya di medan perang. Hanya jika diajak bicara, sesekali Amad menyerongkan telapak tangannya di samping telinga. Tanda untuk meminta lawan bicara agar sedikit mengencangkan suaranya. Pendengaran Amad memang mulai terganggu karena faktor usia.

“Nama saya sebenarnya Ahmad, tapi orang Jepang susah ngomong ‘H’ jadi saya lebih sering dipanggil Amad,” ungkapnya, seperti dikutip Senin (10/8/2026).

Bacaan Lainnya

Amad mengisahkan, jika dirinya merupakan putra asli Surabaya. Ia lahir tahun 1922. Ia adalah satu-satunya veteran di Jawa Timur yang terlibat perang tahun 1945 yang hingga kini masih hidup.

Saat terjadi gerakan arek-arek Suroboyo melawan Belanda di Surabaya hingga perobekan bendera Belanda, ia yang kala itu masih cukup muda mendapat tugas penting. Yakni untuk menyiapkan tangga.

“Dengan tangga itu, arek-arek Suroboyo bisa naik ke puncak hotel Yamato dan merobek bendera Merah-Putih-Biru milik Belanda menjadi sang saka Merah Putih,” kisahnya.

Selain pernah menjadi pasukan perang bersama Bung Tomo, Amad juga merupakan mantan pasukan Heiho yang merupakan organisasi militer dan semi-militer yang dibentuk oleh Pemerintah Jepang di Indonesia selama masa penjajahan. Arti nama Heiho adalah tentara pembantu.

Selama menjadi Heiho, ia tak lantas menurut kepada Jepang. Amad justru yang menginisiasi mengambil senjata peninggalan Jepang di Sekolah Don Bosco yang terletak di Jalan Tidar, Surabaya.

Hingga kini Amad masih menyimpan ‘tanda mata’ peperangan di zaman penjajahan. Sebuah peluru masih bersarang di paha kirinya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan