Siswa-siswi atau santri dan santriwati Tarbiyyah Hifdhul Ghulam Wal Banat (THGB), sekolah yang dijalankan oleh pesantren itu, selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza setiap hendak memulai pelajaran. Setiap hari. Ya, setiap hari.
Momen menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza tersebut tersekam dalam dokumentasi jurnalisme sinematik hasil kolaborasi Samudra Fakda dan Reddocs berikut ini:
Lagu tiga stanza selalu dinyanyikan karena, menurut pengasuh Ponpes sekaligus Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, Kiai Moch. Muchtar Mu’thi, ada doa dalam setiap liriknya. Dan dengan doa itulah, menurut Kiai Muchtar, Indonesia bisa selamat.
Menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza tak hanya dilakukan oleh santri-santri pondok itu, tetapi juga diaplikasikan oleh seluruh jemaah atau warga Tarekat Shiddiqiyyah di seluruh Indonesia dalam setiap acara yang mereka adakan.
Ironisnya, selama ini, sebagian besar institusi pemerintahan maupun swasta, dan orang Indonesia hanya tahu stanza pertama, yang sebagaimana penjelasan Kemendikbud, adalah lagu yang mewakili bangsa yang belum bersatu.*





