Wage Rudolf (WR) Soepratman adalah sosok yang sangat berarti dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia. Sebagai seorang komponis, dia memperjuangkan kemerdekaan lewat cara unik, yakni dengan musik yang sarat semangat nasionalisme. Terlahir dari pasangan Djumeno Senen Sastrosoehardjo dan Siti Senen, Soepratman menggunakan bakatnya dalam biola dan gitar untuk menciptakan karya-karya yang mempersatukan bangsa.
Wage menciptakan banyak lagu bernuansa persatuan. Lagu pertama yang berhasil diselesaikannya sekarang dikenal dengan judul “Dari Sabang Sampai Merauke”. Dahulu ketika Soepratman menciptakannya, lagu tersebut berjudul “Dari Barat Sampai ke Timur”. Lagu terakhir yang sempat dibuatnya berjudul “Matahari Terbit”.
Namun lagu paling fenomenal yang membuat nyawanya terancam adalah “Indonesia Raya”. Efek dari lagu Indonesia Raya tersebut benar-benar berhasil menyatukan rakyat Indonesia. Pembuktiannya bisa dilihat saat Kongres Pemuda II.
Sebenarnya Indonesia Raya sudah selesai di tahun 1926 dan Wage hampir membawakannya pada Kongres Pemuda I tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926. Sayangnya Wage muda masih kurang percaya diri. Akhirnya, ia baru membawakan instrument Indonesia Raya di Kongres Pemuda II yang melahirkan sumpah pemuda di tanggal 28 Oktober tahun 1928.
Keberaniannya menguat karena Soegondo Djojopoespito menyuruhnya membawakan instrumen lagu Indonesia Raya dengan diiringi tim paduan suara “Indonesia Merdeka”.
Lagu tersebut berhasil membangkitkan jiwa persatuan para pemuda dari seluruh nusantara. Akhirnya lagu Indonesia Raya dinyanyikan di setiap pertemuan pergerakan nasional. Seharusnya Wage mendapatkan penghargaan dari semua pihak dan rakyat Indonesia.
Namun saat itu, nyawanya semakin terancam karena Indonesia Raya semakin sering dinyanyikan. Meskipun Belanda sudah melarang menyanyikannya di luar ruangan dan menyuruh menghapus kata ‘merdeka,’ namun rakyat tidak pernah menghiraukan.
Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini pertama kali diperkenalkan oleh komponisnya, Wage Rudolf Soepratman, pada tanggal 28 Oktober 1928 pada saat Kongres Pemuda II di Batavia.
Lagu ini menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara di Indonesia yang mendukung ide satu “Indonesia” sebagai penerus Hindia Belanda, daripada dipecah menjadi beberapa koloni.
Stanza pertama dari Indonesia Raya dipilih sebagai lagu kebangsaan ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Tersengat Tantangan Bung Karno
Keseriusan Wage menjadi komponis semakin bergejolak setelah membaca salah satu artikel di Fadjar Asia, media yang dipimpin Haji Agus Salim. Pada artikel yang sebelumnya sudah tayang di majalah Timboel ini tertulis “mana ada komponis bangsa kita yang mampu mencipta lagu kebangsaan Indonesia yang dapat menggugah semangat rakyat?”
“Ya memang hingga sekarang masih belum ada komponis Indonesia yang berhasil memberi lagu kebangsaan kepada pergerakan nasional. Bukankah itu suatu tantangan?” bisik Wage pada dirinya sendiri.
Semangatnya semakin terbakar saat Sukarno — dalam salah satu pidatonya saat menjadi Ketua PNI– menyebut-nyebut soal lagu kebangsaan. Mulailah Soepratman fokus menciptakan lagu untuk bangsa Indonesia. Setelah merampungkan liriknya, ia pun mulai menyurati panitia kongres.
Ia meminta kepada panitia agar bisa menampilkan karyanya di kongres.
“Seandainya lagi itu tidak menjadi lagu kebangsaan atau setidak-tidaknya menjadi lagu pergerakan, menjadi lagu untuk menyemarakkan jalannya kongres pun, memadailah sudah!” demikian yang tertulis dalam suratnya.
Panitia pun memperkenankannya untuk memainkan hasil karyanya. Meski akhirnya hanya melodi lagu Indonesia Raya menggunakan biola yang bisa diperdengarkan. Karena pada saat itu, pemerintah kolonial benar-benar membatasi kegiatan yang terkait dengan kemerdekaan.
Penampilan Wage menuai decak kagum para peserta kongres. Sejak saat itulah, lagu Indonesia Raya popular di masyarakat. Namanya mulai banyak diperbincangkan di media-media.




