Wage Meninggal Dunia
Wage menghembuskan napas terakhirnya pada Rabu Wage 17 Agustus 1938 di sebuah rumah di Jalan Mangga 21, Tambaksari, Surabaya dalam usia 35 tahun. Rumah itu merupakan tempat peristirahatan Wage selepas ditahan selama 10 hari oleh Belanda.
Dua hari sebelum kemangkatannya, Wage menyebut ia tak pernah menyesali keputusannya sebagai aktivis. Meski ia harus menjadi buron dan hidup dalam kemiskinan. Ia bahkan mesti menjual buku-buku bekasnya untuk menyambung hidup.
“Biarlah saya meninggal, saya ikhlas. Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin, Indonesia pasti merdeka,” kata Wage.
WR Supratman mendapatkan gelar “Pahlawan Nasional” pada tanggal 20 Mei 1971 atas jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Setelah itu Presiden RI yang kala itu dipimpin oleh Soeharto memberikan Surat Keputusan No.017/TK/1974 tanggal 19 Juni 1974 untuk menganugrahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama kepada WR Supratman.
Makam W.R. Soepratman berada di Jalan Kenjeran, Desa Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Memiliki pagar keliling dengan pintu masuk yang berada di sebelah Timur. Makam berada di cungkup dengan jirat berbentuk segiempat berukuran P: 280cm, dan T: 40cm.
Bagian atas jirat diberi motif biola. Sementara itu, nisan yang ada hanya di bagian kepala dengan bentuk seperti biola dengan ukuran P: 51cm, Tbl: 21cm. Makam ini merupakan pindahan dari makam W.R. Soepratman sebelumnya yang berada di Makam umum Rangkah yang terletak di depan lokasi makam sekarang. Makam ini diresmikan oleh Presiden Megawati pada tahun 2003.*




