Perubahan Iklim Picu Lonjakan DBD, Unair Ungkap Inovasi Wolbachia
Pakar Unair Dr Agung Dwi Wahyu Widodo menyebut cuaca ekstrem memperluas jelajah nyamuk Aedes aegypti. Inovasi nyamuk ber-Wolbachia berhasil menurunkan kasus DBD hingga 77 persen di Yogyakarta.
Hari Demam Berdarah Dengue ASEAN yang diperingati setiap 15 Juni menyoroti lonjakan kasus signifikan di Indonesia. Pakar Universitas Airlangga Dr Agung Dwi Wahyu Widodo menyatakan perubahan iklim dan cuaca ekstrem menjadi penyebab di balik makin masifnya penyebaran penyakit ini.
“Kebanyakan iklim dan cuaca ekstrem yang terjadi di ASEAN, terutama Indonesia, berdampak cukup kuat terhadap peningkatan kasus. Kenaikan suhu, curah hujan tinggi, serta perpanjangan musim hujan menyebabkan perluasan daerah jelajah nyamuk,” ungkapnya, Kamis (18/6/2026).
Dr Agung menjelaskan, usia nyamuk bertambah dan mereka tidak gampang mati dalam kondisi cuaca yang makin tak menentu. Akibatnya, risiko penularan virus dengue semakin meluas ke wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak terjangkau.
Inovasi Wolbachia dan Penurunan Kasus
Menghadapi ancaman yang terus berevolusi, dunia medis tidak tinggal diam. Dr Agung menyoroti pengembangan inovasi teknologi nyamuk ber-Wolbachia, bakteri alam yang dapat memblokir transmisi virus dengue di dalam tubuh nyamuk.
“Wolbachia ini bersimbiosis dengan serangga Aedes. Saat Aedes diinfeksi Wolbachia, sistem imunnya akan teraktivasi dengan baik sehingga tidak mudah terinfeksi virus dengue,” jelasnya.
Menariknya, probosis nyamuk yang digunakan untuk menusuk kulit manusia juga menjadi lemah. Inovasi ini juga mengganggu perkembangbiakan nyamuk secara seksual. “Nyamuk jantan yang terinfeksi akan membuat spermanya mandul, sehingga ketika kawin dengan betina tanpa Wolbachia, telurnya tidak bisa menetas,” terangnya.
Di Yogyakarta, pelepasan nyamuk ber-Wolbachia berhasil menurunkan angka kasus DBD hingga 77 persen dan menurunkan tingkat rawat inap secara drastis. Peneliti menegaskan bakteri ini aman dan tidak berbahaya bagi manusia.



