Pakai Air Liur, Terobosan Baru Pakar Unair Pantau Kematangan Gigi Anak

Deteksi Gigi Pakai Air Liur
Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Prof Dr Sindy Cornelia Nelwan drg SpKGA K-KGA. (Humas Unair)

Prof Sindy dari Unair memanfaatkan hormon DHEA-S dalam air liur untuk memprediksi pertumbuhan gigi anak secara non-invasif tanpa paparan radiasi.

Perkembangan ilmu kedokteran gigi anak terus melahirkan inovasi untuk meningkatkan kenyamanan serta keakuratan diagnosis pada pasien anak. Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, Prof Dr Sindy Cornelia Nelwan drg SpKGA K-KGA, memaparkan hasil riset terbarunya mengenai potensi pengujian air liur untuk mendeteksi tumbuh kembang anak, termasuk pada anak dengan kondisi Down Syndrome.

Selama ini, menentukan waktu tumbuhnya gigi serta momen yang tepat untuk tindakan medis sering kali mengandalkan foto rontgen. Namun, penggunaan rontgen membawa risiko paparan radiasi yang sebisa mungkin dihindari pada anak-anak.

Melalui riset ini, Prof Sindy memanfaatkan hormon Dehydroepiandrosterone Sulfate atau DHEA-S yang terdapat dalam air liur. Hormon ini mencerminkan aktivitas kelenjar adrenal yang kadarnya meningkat seiring proses pematangan tubuh.

Bacaan Lainnya

Prof Sindy menjelaskan bahwa penggunaan hormon ini menjadi solusi yang aman bagi pasien anak.

“Dengan kita pakai hormon yang ada di air liur ini, penelitian bisa dilakukan secara non-invasif, biasanya kalau kita mau lihat giginya kapan tumbuh, kita foto rontgen, namun itu kan ada paparan radiasi yang ingin kita hindari pada anak-anak,” ujar Prof Sindy, dikutip Rabu (5/8/2026).

Riset ini diproyeksikan tidak hanya berhenti di laboratorium semata. Prof Sindy mengungkapkan harapannya untuk mengembangkan alat ukur mandiri berupa diagnostic kit yang praktis di masa depan.

“Sebetulnya riset ini mau diarahkan untuk membuat diagnostic kit, yaitu alat yang bisa dipakai langsung oleh praktisi di lapangan seperti tes kehamilan. Begitu air liurnya diteteskan, kita bisa langsung melihat dan memprediksi kapan gigi anak akan tumbuh. Namun, memang prosesnya masih agak panjang karena kita mesti membuat alatnya terlebih dahulu,” tutur Prof Sindy.

Selain memaparkan risetnya, Prof Sindy memberikan panduan bagi para orang tua dalam menjaga kesehatan rongga mulut anak. Beliau menegaskan bahwa masalah karies gigi dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu kualitas gigi, lingkungan, keberadaan mikroorganisme, serta faktor waktu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan