WR. Soepratman, Berjuang dengan Pena dan Biola Demi Indonesia Merdeka

Sosok Penulis Roman
Sampul Buku Perawan Desa, salah satu karya Wage Rudolf Supratman. (Foto: Kolase)

Selain sebagai sosok propagandis ide Indonesia merdeka, ketika menjadi wartawan Kaoem Moeda, Kaoem Kita, Biro Pers, dan Sin Po, Wage ternyata juga merupakan penulis roman.

Ada tiga roman pernah dilahirkan menjadi “anak rohani” W.R. Supratman. Sayangnya, hanya tinggal satu anak rohaninya, yakni Perawan Desa yang berhasil “diselamatkan”. Sementara dua lainnya yakni Darah Moeda dan Kaoem Fanatiek disita dan dihancurkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sehingga tak bisa diketahui keberadaannya hingga kini.

Mengenai keberadaan roman Kaoem Fanatiek, WR Supratman sempat mengiklankannya di halaman buku Perawan Desa.

Bacaan Lainnya

Ia menuliskannya sebagai berikut: “Batjalah boekoe ‘Kaoem Fanatiek’ soeatoe roman jang terdjadi dalam soeatoe tanah particulier di Batavia. Kekedjaman seorang jang berharta, keboeasan seorang mandor jang djadi boedak jang tidak merdeka dan ketjerdikan seorang penipoe. Lebih djaoeh, batjalah bagaimana penghidoepan kaoem tani di Betawi, drama, dan kesengsaraan seorang gadis jang dirapas kemerdekaannja.”

Pelarangan buku Perawan Desa tak ubahnya pelarangan karya aktivis pergerakan lainnya seperti Tirto Adhi Soerjo, Semaun, Marco Kartodikromo, dan lain-lain. Tentunya ada alasan kuat mengapa Pemerintah Kolonial melarang buku seperti itu.

Razif dalam pengantar buku Perawan Desa yang diterbitkan ulang Sinar Hidoep baru-baru ini mencatat: “Pelarangan buku tidak hanya untuk meredam penyebaran gagasan kaum pergerakan, namun juga untuk menghapus kepanjangan ingatan (memory) yang bisa dilakukan oleh buku.”

Lebih lanjut, “Penguasa Kolonial melarang dan memberangus buku secara keras agar narasi kaum pergerakan mengenai kebrutalan dan kesewenang-wenangan mereka tidak menjadi ingatan bersama (memory collective).

Maka, cerita yang tak sejalan dan tidak mendukung kolonial berarti dianggap sebagai “bacaan liar” yang membahayakan rust en orde. Pada 1924 tahun, Wage pernah melakukan reportase tentang kehidupan masyarakat di Priangan, Bandung untuk koran Kaoem Moeda dan Kaoem Kita.

Bisa jadi, latar belakang inilah yang membuat Wage terinspirasi untuk mengangkat bagaimana pergumulan hidup kaum muda Priangan di masa itu.

Dikisahkanlah sosok Sitti Adminah alias Mintje, gadis berusia sekitar 18-24 tahun berasal dari Desa Ciharum yang terletak sekitar 10 kilometer dari Bandung.

Orangtuanya tergolong orang berada yang memiliki lahan pertanian luas dengan banyak hewan ternak. Oleh sebab itulah, orangtuanya bisa menyekolahkan Sitti di sekolah menengah Belanda atau Hogere Burgershool (HBS).

Pendidikan di HBS ternyata membentuk Sitti menjadi pemudi yang berpandangan luas namun bergaya hidup kebarat-baratan bahkan tergila-gila dengan kehidupan kota. Karena gaya hidupnya inilah ia kemudian biasa dipanggil dengan nama “Mintje”.

Mintje suka dunia plesiran, nonton bioskop, belanja dan berpakaian ala Eropa. Ia lebih suka tinggal di Batavia yang serba dinamis ketimbang tinggal di desa yang roda kehidupan serba berjalan lambat.

Mintje adalah gambaran sosok pemudi yang tercerabut dari akar budaya masyarakat lokal dan tumbuh layaknya noni atau gadis Bumiputra yang mendamba menjadi seperti anak Belanda.

Masa kelulusan di HBS pun tiba. Ia sempat pulang kampung merayakan kelulusannya. Namun, baru seminggu di kampung, ia sudah merasa tidak betah dengan kehidupan yang serba sepi dan pola hidup bangun, berkebun, istirahat siang, bersawah, dan malam hari semua serba sepi tak ada keramaian.
Dengan alasan ingin mencari pekerjaan di Batavia, maka Mintje buru-buru minta izin berangkat kembali ke kota.

Dalam suatu perjalanan kereta antara Bandung-Batavia, Mintje bertemu dengan seorang pemuda berperawakan tinggi besar, gagah layaknya orang Eropa. Pemuda itu mengaku bernama Raden Soebagio, anak seorang mantri polisi.

Singkat cerita, Soebagio yang keeropa-eropaan dan gagah itu berhasil memikat hati Mintje. Apalagi gaya bicara Soebagio luwes dan juga pandai mengambil hati Mintje. Di Batavia, hubungan Mintje dengan Soebagio berlanjut hingga hubungan percintaan yang melampaui batas.

Apa dikata, sepandainya tahi kucing disembunyikan, akhirnya bau busuknya tercium juga. Malang bagi Sitti Adminah alias Mintje karena belakangan sosok asli Raden Soebagio terungkap. Ia ternyata adalah seorang penipu ulung dengan nama sebenarnya Van Stelen.

Pria berdarah Belanda tersebut sedang menjadi buronan polisi karena terlibat pencurian uang 10 ribu gulden milik perusahaan tempatnya bekerja. Diketahui pula, Van Stelen adalah sosok playboy kelas kakap di mana sudah banyak perempuan menjadi korban petualangannya.

Van Stelen ditangkap di Yogyakarta saat hendak turun dari kereta. Mintje yang juga sedang bersama Van Stelen kala itu ikut ditangkap untuk dijadikan saksi.

Melalui kisah Mintje, W.R. Supratman secara lugas ingin menyampaikan tentang superioritas ras Eropa terhadap kaum bumiputra. Di sisi lain, sebagian kaum bumiputra ternyata tunduk karenanya bahkan tergila-gila dengan cara hidup serba glamaour yang ditawarkannya.

W.R Supratman juga ingin menyampaikan tentang kehidupan serba kontras orang Belanda yang bisa mudah hidup berfoya-foya ditemani banyak perempuan dari uang hasil curian alias sistem penjajahan di Hindia Belanda.
Novel tersebut menceritakan tentang gadis desa yang menjadi korban kolonialisme. Gadis itu dikisahkan hidup dalam sistem kapitalis imperialis yang memeras rakyat.

Wage begitu berharap banyak dengan penerbitan buku ini. Bahkan dirinya sendiri berencana turun langsung memasarkan bukunya di Kongres Pemuda II tahun 1928. Akan tetapi, setelah buku tersebut terbit, polisi justru melarang bukunya beredar.

Wage terpukul. Terlebih, ia sudah mengeluarkan uang 25 gulden untuk mencetak bukunya. Hal ini membuatnya kian menyadari betapa kejamnya kolonialisme dan kapitalisme.

Kejadian itupun membuatnya sadar akan pentingnya kemerdekaan Indonesia. Tak larut dalam kekesalannya, Wage pun bersiap menyambut kongres pemuda II tahun 1928. Kongres ini menjadi titik momentum lahirnya maha karya lagu kebangsaan Indonesia yang dibuat oleh Wage.

Sebagai wartawan, Wage mengenal Ketua Panitia Kongres yakni Sugondo Joyopuspito. Keduanya sangat akrab sehingga Wage mendapatkan informasi bahan-bahan yang akan dibicarakan dalam kongres sebelum acara dimulai.

Menariknya, Sugondo serta kawan-kawannya mengenal Wage sebagai seorang komponis. Salah satu lagu yang mereka tahu yakni Dari Barat Sampai Ke Timur. Lagu tersebut mengisahkan tentang keinginan bebas dari kekejaman pemerintahan kolonial yang membatasi kegiatan rakyat yang melakukan pergerakan kemerdekaan.

Pos terkait