KH. Hasyim Asy’ari: Penyeru Resolusi Jihad, Kukuh Merawat Kehormatan Bangsa Indonesia

Menurut catatan Sejarawan NU Abdul Mun’im D.Z., dalam Fragmen Sejarah NU (2017), gejolak revolusi pada masa keluarnya fatwa haram berhaji itu dirasakan sebagai penderitaan yang luar biasa. Pasalnya, semua kegiatan sosial ekonomi terganggu, termasuk aktivitas menjalankan ibadah haji. Di tengah situasi tersebut, tawaran Belanda menyediakan fasilitas lengkap bagi yang  hendak melaksanakan ibadah haji tampak populis. Namun, di baliknya mengandung intrik politik untuk meraup simpati umat Islam Indonesia.

KH Hasyim, sebagai pemimpin besar NU dan pemimpin besar Bangsa Indonesia, juga pernah mengeluarkan fatwa haram bagi santri memakai pakaian yang menyerupai Belanda. Fatwa ini terbukti efektif menggerakkan perlawanan kultural secara luas terhadap kekuasaan kolonial.

Bacaan Lainnya

Fatwa tersebut hanya berlaku pada konteks saat itu, ketika Kiai Hasyim melihat propaganda Belanda melalui borjuisme kolonial dalam busana. Keberhasilan perlawanan kultural kaum santri ini mampu menggerakkan sekaligus memompa nasionalisme Bangsa Indonesia dalam melawan kolonialisme dan imperialisme.

Abror Rosyidin, Tim Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari menuliskan beberapa kisah yang menunjukkan betapa Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari adalah pribadi yang tegas.

Kiai Hasyim, tulis Abror, pernah dibujuk menjadi pejabat pemerintah Hindia Belanda. Dia menolak. Dia juga pernah menolak pemberian langsung Ratu Wilhelmina berupa bintang jasa perak dan emas beserta surat resmi pengangkatannya,tetapi dengan syarat, Kiai Hasyim harus menghentikan kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Tebuireng. Dia juga mendapatkan iming-iming akan dijadikan pejabat dan mendapat santunan uang.

Menanggapi iming-iming itu, tegas Kiai Hasyim mengatakan:Demi Allah umpama mereka itu kuasa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud agar aku berhenti berjuang, aku tidak mau. Dan aku akan berjuang terus sampai cahaya keislaman merata di mana-mana, atau aku gugurlebur menjadi korbannya. Hendaknya dapatlah mencontoh dan mengambil teladan dari tingkah laku dan perbuatan Baginda Nabi Muhammad Saw. dalam menghadapi segala hal. Mudah-mudahan Allah Swt. melindungi kita, umat Islam sekaliannya. Dan selalu melimpahkan taufiq serta hidayah-Nya.

Dia menolak tunduk. Dengan tegas ingin tegak pada pendiriannya sejak awal: berdakwah dan membebaskan umat dari kesengsaraan. Dia tegas mengajak masyarakat meninggalkan perburuhan pabrik, dan beralih ke pertanian, perkebunan, perdagangan, dan peternakan.

Saat Jepang masuk ke Indonesia, Tebuireng tidak luput dari kekejaman mereka. Kiai Hasyim sendiri kena imbasnya. Dia dipaksa membungkuk untuk melakukan Seikerei ke arah matahari. Dia tegas menolak. Tak pelak, dia disiksa dan dipenjara. Di dalam penjara dia tetap tidak mau tunduk.

Kiai Hasyim tahu cara mempertahankan harga diri bangsanya dan menjaga kehormatan agamanya.—bersambung

(Wijdan | disarikan dari berbagai sumber)  

Pos terkait