Dinamika PBNU menghangat saat Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketum Yahya Cholil Staquf menunjukkan perbedaan pandangan tajam soal kaderisasi di Bangil.
Dinamika di pucuk pimpinan Nahdlatul Ulama kembali menyita perhatian publik. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menunjukkan perbedaan pandangan secara terbuka.
Perbedaan ini mencuat saat keduanya menghadiri pelantikan pengurus PCNU di Graha PCNU Bangil. Meski hadir di acara yang sama, kedua tokoh ini datang bergantian dan menyampaikan orasi yang seolah saling merespons.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf tiba lebih awal di lokasi. Ia memaparkan urgensi pembenahan tata kelola organisasi serta perluasan program kaderisasi secara masif guna menjawab tantangan zaman.
“Kaderisasi sudah jalan dan masih meluluskan 130.000 kader. Itu masih kecil, kita butuh dua juta sekian ratus ribu kader,” kata Yahya di Bangil, Selasa (9/6/2026).
Yahya menolak pandangan yang memisahkan karakter fleksibilitas antara lembaga Syuriah dan eksekutif Tanfidziyah. Keduanya adalah satu kesatuan yang diwajibkan untuk terus beradaptasi dengan kemajuan era modern.
Kritik Tajam Rais Aam PBNU
Sekitar satu setengah jam setelah Yahya beranjak pergi, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar tiba di lokasi. Ia justru menyoroti sejumlah kelemahan krusial dalam sistem kaderisasi yang saat ini berjalan.
Miftachul secara khusus mengkritik model pendidikan kader yang membiarkan pihak luar bergabung tanpa rekam jejak yang jelas di internal NU.
“Masak orang yang sama sekali tidak pernah terlibat di NU, tidak pernah jadi pengurus, kemudian ikut kaderisasi, lalu jadi kader NU,” ujar Miftachul dengan nada kritik, Selasa (9/6/2026).
Rais Aam lantas menegaskan peran sentral Syuriah sebagai pengendali utama organisasi. Ia menganalogikan peran ini dengan konsep pengawasan batin atau muraqabah dalam tradisi tasawuf.
“Apa yang belakangan ini terjadi karena Syuriah mengontrol hal-hal yang sudah keluar supaya kembali ke rel,” tegasnya menutup polemik internal tersebut.***





