Pernah “Khilaf” dengan Polri
Perkara “khilaf” ini bukan pertama kali terjadi di KPK. Tak hanya terjadi pada periode ini saja.
Ketika KPK dipimpin Antasari Azhar, terjadi “kekhilafan” unsur pimpinan KPK yang disinyalir menjadi hulu ledak polemik “Cicak vs Buaya” pada tahun 2009. Adanya miskoordinasi itu diakui sendiri oleh Antasari Azhar dalam buku Antasari Azhar: Melawan Narasi dan Kriminalisasi (2009).
Dalam buku tersebut Antasari menerangkan, pada kasus pengusutan dugaan gratifikasi di tubuh Korps Lalu Lintas Polri pada tahun 2008, telah terjadi miskoordinasi antara dia dan pimpinan KPK lain kala itu, yaitu Wakil Ketua KPK Chandra M. Hamzah. Ddi saat yang bersamaan, juga terjadi “miskoordinasi” antara KPK dengan Polri.
Menurut Antasari, sekitar akhir 2008, seseorang menghubunginya melalui telepon. Namun dia tidak mau menyebutkan siapa orang itu. “Kata orang itu, orang-orang di Mabes Polri marah-marah. Saya tanya; kenapa marah? Ternyata, gara-garanya KPK menyadap Mabes Polri!” kata Antasari.
Antasari mengaku bingung: Siapa yang menyadap? “Soal sadap-menyadap itu saya memang benar-benar tidak tahu. Karena yang bisa mengeluarkan surat perintah penyadapan waktu itu adalah Chandra Hamzah.”
Sehari setelah mendapatkan telepon, Antasari memanggil Chandra ke ruangannya. “Saya tanya langsung, apakah benar dia menyadap Mabes Polri? Dia diam saja. Tidak menjawab. Lalu saya panggil Direktur IT KPK Budi Ibrahim. Mereka duduk berdua di hadapan saya. Saya tanya lagi, ‘Apa benar kalian menyadap Mabes Polri?’ Chandra masih tidak menjawab. Dia malah berkata pada Budi, ’Bagaimana, Bud? Kamu yang jawab.’ Lalu, Budi menjawab, ’Benar, Pak.’ Saat itu juga langsung saya pukul meja!”
”Saya bilang mereka kurang ajar. Saya bilang kepada mereka, ‘Penyadapan itu kan tindakan yang sangat strategis. Kenapa tidak lapor saya dulu?’ Saya tidak bermaksud untuk menyetop. Selama kegiatan itu benar, silakan diteruskan. Tetapi, saya sebagai ketua harus tahu, dong. Jadi, kalau ada pertanyaan, saya bisa menjawab.”
Lalu, Antasari berkata pada Chandra dan Budi Ibrahim, ‘Tahu enggak, apa yang terjadi di luaran sana? Mereka (Mabes Polri) marah, dan keluar kata-kata tidak enak yang ditujukan pada Ketua KPK’. Hingga akhirnya Polri mengeluarkan pernyataan, ’Potong dulu kepalanya, baru ekornya,’ yang ditujukan pada KPK. Waktu itu saya tidak tahu maksud kalimat tersebut.”





