Hati-Hati, Metode Bayar Mudah ‘Paylater’ Bisa Bikin Anak Muda Jadi Budak Utang

Jakarta — Paylater atau fitur “beli sekarang bayar nanti” jadi tren transaksi masa kini. Banyak orang yang menjadi pengguna fasilitas ini. Namun, hati-hati, sebab paylater bisa bikin candu dan membuat anak muda kebanyakan utang.

Dengan paylater, seseorang bisa membeli barang kendati tidak punya uang yang cukup. Bisa beli tanpa harus membayar langsung. Sebagai gantinya, si pengguna harus membayar tiap bulan beserta bunganya.

Metode ini terlihat praktis dan simpel, seperti fasilitas kredit pada umumnya, yang memudahkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kendati lagi bokek. Tapi, jangan salah, paylater juga bisa berbuntut bahaya.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, “Paylater itu kemudian membuat anak-anak muda ini, nama kerennya, over-indebtedness alias kebanyakan utang.”

Bacaan Lainnya

Friderica, atau yang akrab disapa Kiki, menyampaikannya dalam Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2024, dilansir dari YouTube OJK, Senin (7/10/2024).

Dia mengamini bahwa paylater telah menjadi budaya di kalangan anak muda. Menurut data yang dicatat OJK, kata Kiki, mayoritas pengguna paylater berasal dari genersi Z  dengan rentang usia 26-35 tahun.

Rinciannya, 26,5 persen pengguna berusia 18-25 tahun; 43,9 persen dari pengguna berusia 26-35 tahun;  21,3 persen berusia 36-45 tahun; 7,3 persen pengguna berusia 46-55 tahun; dan hanya 1,1 persen pengguna paylater berusia di atas 55 tahun.

Dari sisi penggunaan, paylater banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan fesyen anak-anak muda, yang mencapai 66,4 persen. Disusul perlengkapan rumah tangga dengan 52,2 persen, elektronik 41 persen, laptop atau ponsel 34,5 persen, hingga perawatan tubuh sebesar 32,9 persen.

Menurut Kiki, maraknya penggunaan paylater di kalangan pemuda tak hanya menjadi kekhawatiran OJK saja, melainkan seluruh regulator industri keuangan di dunia. Bahkan, fenomena fear of missing out atau fomo, you only live once (yolo) hingga doom spending yang memicu perilaku berutang pada anak muda telah menjadi bahasan forum International Network on Financial Education oleh OECD.

“Anak muda ini fomo, kalau enggak ikut khawatir dibilang ketinggalan zaman. Terus yolo. Katanya sekarang tren baru doom spending, belanja serasa mau kiamat. Jadi, anak muda ini kemudian membelanjakan yang dimiliki seolah tidak ada hari esok. Paling gawat, belanjanya bukan dari uang yang dimiliki, tetapi dari uang yang utangan tadi,” jelasnya.

Padahal, kata Kiki, di balik kenikmatan sesaat yang ditawarkannya, utang paylater memiliki risiko besar jika tidak dikelola dengan baik–atau dibayar secara teratur tidak melebihi tanggal jatuh tempo. Salah satunya adalah membuat Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) jeblok, sehingga membuat anak muda kesulitan mengajukan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

“Banyak sekali anak-anak muda, yang saya dapat informasi dari bank yang menyalurkan KPR, menyatakan bahwa mereka ini tidak bisa mendapatkan KPR rumah karena SLIK-nya sudah buruk,” sambung Kiki.

Kiki juga mengaku sering menemukan fakta bahwa ada anak muda yang sengaja mengajukan utang paylater melalui aplikasi pinjaman online enggan membayar dan membuang nomornya. Hal inilah yang kemudian membuat riwayat SLIK-nya jeblok.

Skor kredit yang buruk pada SLIK ini lah yang kemudian membuat anak-anak muda, utamanya lulusan baru fresh graduate, kesulitan mendapat pekerjaan.

“Karena semua akan ada catatan masing-masing. Adik-adik harus bertanggung jawab karena akan melekat kemana pun kalian pergi,” pesan Kiki.

Berbagai Risiko Paylater

Selain yang dijelaskan Kiki, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, paylater juga bisa menyebabkan risiko lainnya, antara lain:

1. Pengaturan Keuangan Terganggu

Kemudahan fitur paylater seringkali menjadi penyebab terganggunya pengaturan keuangan pribadi karena adanya cicilan. Sementara itu, seringkali dana yang disisihkan untuk membayar cicilan terpakai untuk memenuhi kebutuhan yang lebih mendesak. Ini mengakibatkan debitur tidak mampu membayar cicilan.

2. Ada Biaya yang Tidak Disadari

Ketika menggunakan paylater, tanpa sadar seseorang terbebani biaya lain yang ikut aktif, seperti biaya subscription, biaya cicilan, dan biaya lainnya. Hal ini yang akan memberatkan debitur setiap kali tagihan datang.

3. Perilaku Konsumtif Berlebih

Penggunaan paylater juga bisa menimbulkan dorongan belanja yang implusif. Seseorang akan lebih mudah tergiur ketika melihat diskon dan tawaran menarik lainnya.

4. Peretasan Identitas

Risiko ini mungkin tidak disadri, tetapi peretasan atau pencurian identitas ini bisa terjadi kendati sudah ada keamanan yang tinggi dari pihak platform penyedia layanan. Tetapi, siapa yang tahu masih banyak orang jahat yang meretas data dan menyalah gunakannya?

Sebenarnya tidak salah menggunakan paylater. Hanya saja, sebaiknya bijaklah dalam menggunakannya. Jangan sampai hanya karena nafsu belanja, jadinya menggunakannya tanpa pikir panjang.

Gunakanlah seperlunya. Jika dirasa barang atau keperluan tersebut bisa ditunda, maka menabung lebih dulu sepertinya pilihan yang lebih bijak. Apalagi jika sekadar memenuhi keinginan semata, mending ditahan dulu.*

Pos terkait