Bagi Gus Yahya, posisi dasar NU tetap berada pada khidmah atau pelayanan kepada masyarakat. Ia mengaitkan sikap itu dengan pesan pendiri NU, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, tentang kewajiban mengupayakan kemaslahatan umum.
Dengan kerangka itu, PBNU ingin menempatkan tambang sebagai instrumen distribusi manfaat, bukan alat perebutan kekuasaan. Ujian terbesarnya kini berada pada transparansi, pengawasan, serta kemampuan memastikan warga akar rumput benar-benar menerima manfaat.***





