Tak Sekadar Layak Huni
Menurut Sekretaris DPP OPSHID Mulyono, konsep Rumah Syukur berbeda dengan program bedah rumah pada umumnya—yang banyak dikerjakan oleh lembaga-lembaga lain di Indonesia, baik pemerintah maupun swasta. Rumah Syukur, kata Mulyono,tak hanya merenovasi rumah yang sudah ada. Program ini membongkar total rumah lama yang sudah tidak layak huni, lalu membangun ulang rumah tersebut dari awal. Meskipun berjudul “layak huni”, tetapi pembangunannya tak hanya dikerjakan ala kadarnya.
“OPSHID berpegang pada pendirian profesionalisme dalam pengabdian. Kami totalitas mengerjakannya. Kami gunakan konstruksi dan material bangunan terbaik,” jelas Mulyono.
“Yang perlu digarisbawahi adalah, ini ‘rumah syukur’, bukan ‘rumah layak huni’,” imbuh Mulyono. “Karena,” lanjutnya, “jika memakai istilah ‘layak huni’, kesan yang muncul untuk masyarakat umum, rumah itu memang tidak jelek, tetapi juga tidak bagus. Nanggung. Namun, faktanya, rumah-rumah yang dibangun teman-teman OPSHID se-Indonesia ini termasuk ‘mewah’. Bahkan ada yang mengomentari rumah tersebut ‘layak jual’.”

Mulyono mengklaim bahwa bangunan RSLH dikerjakan oleh ahli. “Di proyek (rumah layak huni) umum tidak perlu mikir mana yang terbaik, karena hanya mengejar keuntungan saja. Itulah yang membedakan rumah produk OPSHID dan rumah yang dikerjakan pemborong pada umumnya. Semangat memberikan yang terbaik itulah yang melatar belakangi pekerjaan teman-teman OPSHID,” tegas Mulyono.
Penerima program juga tak dipungut biaya sepeser pun. Seratus persen gratis. Tak hanya itu, penerima bantuan juga mendapatkan paket lengkap. Rumah sekalian diisi dengan perabot, dilengkapi fasilitas air dan listrik, dan taman di halaman rumah. Bahkan, pada beberapa kasus khusus, penerima bantuan juga menerima fasilitas penunjang kehidupan sehari-hari.





