Kisah Prof Nicolaas, dari Sirkuit Balap ke Spesialis Ortopedi

Prof Nicolaas C. Budhiparama
Prof Nicolaas C. Budhiparama dr PhD SpOT(K) FICS. (Humas Unair)

Kecelakaan serius saat balap Formula 3000 di Eropa jadi titik balik hidup Prof Nicolaas C. Budhiparama. Mantan pembalap itu kini menjadi ahli ortopedi terkemuka dan International President APOA.


Dedikasi di dunia kedokteran sering kali lahir dari titik balik kehidupan yang mendalam. Hal inilah yang melandasi karier Prof Nicolaas C. Budhiparama dr PhD SpOT(K) FICS. Penerima Habibie Prize 2021 yang juga menyandang gelar Guru Besar Kehormatan Universitas Airlangga (Unair) itu telah mendapatkan pengakuan global atas dedikasinya di bidang ortopedi.

Sebelum dikenal sebagai ahli bedah ortopedi terkemuka dunia, Prof Nicolaas muda merupakan pembalap Formula 3000 di Eropa. Kecelakaan serius di Jerman yang memaksanya masuk ICU menjadi titik balik besar dalam hidupnya.

“Pada masa itu, ketika perkembangan medis belum semaju sekarang, saya sempat diliputi kekhawatiran mendalam apakah saya masih bisa hidup normal atau harus menghadapi kecacatan permanen,” kenang Prof Nicolaas, seperti dikutip Jumat (17/7/2026).

Bacaan Lainnya

Titik kritis itu melahirkan janji tulus kepada ibunya untuk bangkit. “Di tengah pemulihan, saya berjanji kepada ibu jika diberikan kesembuhan, saya akan mengabdikan hidup membantu sesama memperoleh kembali kemampuan bergerak dan berjalan secara bermartabat sebagai jalan pengabdian,” ungkapnya.

Kini, dedikasi tersebut diakui secara global hingga ia dipercaya menjadi International President Asia-Pacific Orthopaedic Association (APOA) yang menaungi 66.000 anggota. Ia juga masuk dalam jajaran kepengurusan American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS).

Kiprah nyata Prof Nicolaas itu juga dirasakan dunia olahraga nasional sebagai tim medis yang mengawal fisik atlet elite untuk timnas bulutangkis, renang, dan berbagai cabang olahraga lainnya. Menangani cedera atlet kelas dunia menuntutnya menerapkan evidence-based medicine yang sangat personal agar mereka bisa kembali berlaga secara aman. Terkait kunci menembus panggung global, ia menekankan pentingnya pembuktian karya lewat riset.

“Bagaimana orang lain mengenali kemampuan kita apabila kita tidak pernah menunjukkannya? Salah satu kontribusi nyata dalam dunia akademik adalah publikasi ilmiah guna memperoleh pengakuan internasional. Publikasi ilmiah adalah panggung dunia Anda,” tegas anggota dewan redaksi berbagai jurnal ortopedi dunia itu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan