Makan Daun Ubi 20 Tahun, Nenek Jumaria Nabung di Ember demi Haji

Kisah nenek Jumaria P Sire Said (70) menabung selama 20 tahun akhirnya membawanya untuk pergi haji ke Mekkah. Jumaria terpilih sebagai ikon haji Indonesia 2026 karena kisah dan perjuangannya, Jumat (8/5/2026). - Dok. MCH 2026
Puluhan tahun menyisihkan hasil tani di dalam ember, Nenek Jumaria rela makan daun ubi demi menjejakkan kaki di tanah suci Madinah.

​Sorot mata Jumaria tampak tenang, namun menyimpan kedalaman makna saat ia mengenang perjalanan panjangnya menuju Tanah Suci. Di usianya yang menginjak 70 tahun, perempuan bersahaja asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan ini akhirnya merasakan semilir angin Kota Madinah.

Perjalanan ini bukanlah tentang kemewahan, melainkan sebuah monumen kesabaran yang ia bangun dari butir-butir padi selama puluhan tahun.

​Bagi Jumaria, setiap jengkal tanah di sawah adalah saksi bisu harapannya. Ia tidak memiliki gaji tetap atau investasi besar. Seluruh biaya hajinya murni terkumpul dari peluh di sawah dan kebun yang ia jalani dengan penuh ketekunan.

Bacaan Lainnya
​Rutinitas Pagi di Tengah Kesunyian Sawah

​Sehari-hari, Jumaria memulai hidup saat fajar bahkan belum sepenuhnya menyingsing. Dengan bekal seadanya, ia melangkahkan kaki menuju sawah demi menyambung hidup sekaligus memupuk tabungan surganya.

​“Kerja sawah. Kalau pagi jam 6 pergi, bawa air setengah liter. Habis itu pulang. Pulang mandi, makan. Sudah makan tidur sedikit, baru shalat,” tutur Jumaria dengan suara lirih yang bergetar.

​Selama bertahun-tahun, ia tinggal seorang diri di sebuah rumah sederhana. Letaknya cukup terpencil, jauh dari hingar-bingar permukiman warga di Desa Kurusumange, Kecamatan Tanralili. Di tengah kesunyian itu, ia merawat mimpinya tanpa banyak mengeluh.

​Rahasia Ember dan Kain Bekas di Bawah Kasur

​Cara Jumaria menyimpan uang mungkin akan membuat orang modern terenyuh. Tanpa rekening bank atau brankas besi, ia menyembunyikan uang hasil jerih payahnya di tempat-tempat tak terduga agar tidak terpakai untuk keperluan lain.

​“Kalau sudah panen padi, saya jual, baru kusimpan,” ungkapnya. Tak hanya mengandalkan sawah sendiri, ia pun kerap bekerja di kebun milik orang lain demi upah yang tak seberapa. Namun, kedisiplinannya luar biasa. Semua upah itu masuk ke “bank” pribadinya.

​“Ada lagi itu punya kebun yang kukerja, dia kasih, saya simpan. Kalau ada makanan dibawakan, saya simpan semua (uangnya),” ceritanya. Uang-uang tersebut ia selipkan di bawah tempat tidur atau dimasukkan ke dalam ember, lalu ditutupi dengan tumpukan kain usang.

Pos terkait