“Di bawah tempat tidur. Baru saya tutup kain-kain jelek supaya tidak ada yang tahu. Gitu cucuku bilang ada uang di sini,” kenangnya sambil tersenyum kecil. Strategi sederhana ini berhasil menjaga impiannya tetap utuh selama hampir dua dekade.
Bertahan Hidup dengan Daun Ubi demi Tanah Suci
Keteguhan hati Jumaria diuji saat kondisi ekonominya sedang sulit. Alih-alih mengambil uang tabungan, ia memilih untuk mengetatkan ikat pinggang. Baginya, uang di dalam ember adalah “harta haram” untuk disentuh sebelum tujuannya tercapai.
“Kalau kumasukkan di ember, saya tidak ambil belikan,” tegasnya.
Saat tidak memiliki uang untuk membeli lauk, ia cukup memetik daun ubi yang tumbuh liar di sekitar rumahnya. “Ambil saja daun ubi, saya masak. Masak yang ada saja. Saya tidak mau ambil itu yang kusimpan,” tambahnya lagi.
Sesekali, telur dari ayam peliharaannya menjadi santapan istimewa. Kesederhanaan ekstrem ini ia jalani tanpa sisa dendam pada keadaan, karena ia tahu setiap sen yang ia simpan membawanya selangkah lebih dekat ke Kakbah.
Menjadi Ikon Haji 2026
Kini, pengorbanan itu berbuah manis. Kisah Nenek Jumaria viral setelah diangkat oleh Otoritas Keimigrasian Arab Saudi melalui akun @makkahroute. Wajahnya yang teduh dianggap mewakili semangat jemaah Indonesia yang berangkat dengan penuh perjuangan.
Pemerintah kemudian memilihnya sebagai Ikon Haji 2026 dalam program Makkah Route. Di usia senja, fisiknya yang bugar mencengangkan banyak orang, sebuah anugerah dari kebiasaannya yang aktif bekerja secara mandiri selama puluhan tahun.
Perjalanan Jumaria adalah pengingat bagi kita semua. Ibadah haji bukan sekadar tentang siapa yang paling kaya, melainkan tentang siapa yang paling teguh memelihara keyakinannya. Setelah dua dekade menanti, langkah renta itu kini telah sampai di tanah impian, membuktikan bahwa kesabaran yang dibalut doa takkan pernah mengkhianati hasil.***





