Rambut jagung yang kerap jadi limbah pertanian kini dikembangkan UB menjadi bahan aktif sunscreen anak melalui produk Hi-To-Go Sun Protector.
Universitas Brawijaya menghadirkan inovasi perawatan anak berbasis riset melalui Hi-To-Go Sun Protector, tabir surya anak yang memanfaatkan ekstrak rambut jagung sebagai bahan aktif alami.
Produk ini menjadi bagian dari lini BOUMI, merek perawatan diri khusus anak usia 4 hingga 14 tahun hasil kolaborasi UB bersama PT Cedefindo di bawah Martha Tilaar Group.
Pengembangan tabir surya ini diprakarsai dosen Fakultas Teknologi Pertanian UB, Dr. Rosalina Ariesta Laeliocattleya. Ia melihat rambut jagung, yang selama ini kerap dianggap limbah, memiliki nilai bahan aktif yang bisa dikembangkan.
“Kami ingin mengkaji nilai bahan aktif dalam suatu produk yang awalnya dianggap limbah, seperti rambut jagung, sehingga bisa memberikan nilai tambah sekaligus lebih ramah lingkungan,” ujar Rosalina, dikutip dari UB, Sabtu (9/5/2026).
Dari Limbah ke Produk Bernilai
Hi-To-Go Sun Protector memadukan ekstrak rambut jagung atau Zea mays silk extract dengan bahan alami lain, termasuk minyak atsiri dan Lavandula hybrida oil. UB menyebut produk ini memiliki SPF 50 PA++ untuk membantu melindungi kulit dari paparan UVA dan UVB.
Selain perlindungan sinar matahari, produk ini dirancang menjaga kelembapan kulit anak dan memberi aroma alami lavender. Bentuknya dibuat semprot agar lebih praktis digunakan anak-anak yang aktif.
“Produk ini kami rancang agar praktis, sehingga bentuknya spray dan mudah digunakan oleh anak-anak,” kata Rosalina.
Masuk Produksi Massal
Produk ini telah memasuki tahap produksi massal melalui kerja sama dengan PT Cedefindo. Bahan baku rambut jagung diperoleh melalui kerja sama dengan petani, khususnya di wilayah Pulau Jawa.
Rosalina mengatakan, pemanfaatan bahan lokal dapat menekan biaya produksi sekaligus membuka peluang kolaborasi industri berbasis sumber daya Indonesia.
“Keunggulan kami adalah mengangkat bahan yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi, serta membuka peluang kolaborasi dengan industri berbasis bahan lokal Indonesia,” jelasnya.





