Sayyid Idrus bin Salim Aljufri dan Presiden Soekarno merajut persahabatan ideologis yang kuat demi mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sejarah kebangsaan Indonesia sering kali menyimpan fragmen pertemuan tak terduga yang diam-diam mengokohkan fondasi republik ini. Salah satu pertemuan ruhani dan fisik yang paling puitis terjadi antara Sayyid Idrus bin Salim (SIS) Aljufri—yang akrab disapa Guru Tua—seorang ulama besar kelahiran Tarim, Hadramaut, Yaman, dengan Ir. Soekarno, insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng yang kelak menjadi penyambung lidah rakyat.
Keduanya bagaikan dua kutub magnet yang lahir dari rahim budaya berbeda. Satu mewakili religiusitas Islam tradisional dari Timur Tengah yang menancapkan akarnya di bumi Sulawesi; sementara yang lain mewakili arus nasionalisme sekuler-progresif yang berpusat di tanah Jawa. Namun, alih-alih saling menolak, kedua kutub ini justru saling tarik-menarik. Mereka melebur dalam satu napas perjuangan yang sama: mengibarkan sang Saka Merah Putih.
Dua Kutub, Satu Frekuensi Merah Putih
Jauh sebelum pekik merdeka menggema di Pegangsaan Timur, visi kebangsaan Guru Tua sudah melampaui batas-batas geografis. Jejak nasionalismenya terekam jelas dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1937. Kala itu, pesan dan pandangan Guru Tua turut memperkuat usulan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari mengenai penetapan bendera Merah Putih.
Ini menjadi bukti otentik bahwa sang Habib dari Timur dan para bapak bangsa di Jawa memiliki frekuensi batin yang sama dalam merancang identitas ibu pertiwi.
Sumpah Suci di Bawah Teror Dai Nippon
Kesetiaan pada republik ini tidak dibangun dalam semalam. Sebelum Indonesia merdeka sepenuhnya di tangan Soekarno, keteguhan hati Guru Tua diuji di dalam tungku api penderitaan. Ujian itu datang saat balatentara Jepang merangsek masuk membawa teror baru, menggantikan kolonialisme Belanda.
Sekolah Alkhairaat yang ia rintis dengan susah payah dipaksa tutup. Guru Tua harus menyingkir ke sebuah desa terpencil bernama Pewunu. Di masa pengasingan yang sunyi inilah, sebuah peristiwa spiritual yang menggetarkan terjadi. Menyaksikan kekejaman serdadu Nippon yang menyiksa rakyat dan murid-muridnya, Guru Tua melangitkan sebuah sumpah suci yang lahir dari rahim kepedihan terdalam:





