”Aku tidak ingin melihat bangsaku dijajah fisiknya… dan dicabut kemerdekaannya oleh Jepang.”
Sejarah mencatat, doa itu terkabul dengan cara yang tak bisa dicerna akal sehat: kedua mata beliau mendadak buta. Namun, kebutaan fisik yang bersifat sementara ini rupanya menjadi perisai ilahiah. Menyelidik kondisinya yang tak bisa melihat, militer Jepang berhenti mencurigainya sebagai ancaman. Di balik kelopak mata yang tertutup itu, aktivitas dakwah dan pergerakan bawah tanah Guru Tua terus berkobar tanpa endusan musuh. Mata fisiknya boleh gelap, namun mata batinnya kian tajam menatap fajar kemerdekaan.
Bait Syair untuk Sang Putra Fajar
Ketika proklamasi akhirnya dikumandangkan dan Soekarno duduk di tampuk kepemimpinan, Guru Tua menumpahkan rasa syukurnya yang membuncah lewat untaian syair legendaris. Baginya, Soekarno bukan sekadar seorang presiden, melainkan sosok penyembuh yang membawa obat penawar bagi penyakit kronis bernama penjajahan.
”Wahai Sukarno! Engkau telah jadikan hidup kami bahagia… Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan, dan simbol kemuliaan kami adalah Merah dan Putih.”
Bait-bait ini jauh dari sekadar puja-puji politis. Ini adalah sebuah pengakuan teologis dari seorang ulama besar bahwa di bawah kepemimpinan Soekarno, martabat (izzah) bangsa Indonesia telah kembali tegak.
Menepis Koper Emas Kaum Separatis
Ujian terberat bagi “persahabatan ideologis” ini meletus pada dekade 1950-an, ketika republik yang masih seumur jagung diguncang pemberontakan daerah. Gerakan separatis bersenjata seperti DI/TII dan PRRI/Permesta bergerilya masuk ke pelosok-pelosok, mencari dukungan dari tokoh-tokoh lokal di Sulawesi.
Sebagai tokoh paling berpengaruh di Indonesia Timur, Guru Tua tentu menjadi target utama. Utusan pemberontak datang silih berganti. Mereka membawa koper-koper berisi uang dan menjanjikan jabatan mentereng, merayu sang Guru untuk memalingkan wajah dari pemerintah pusat di Jakarta.
Alih-alih goyah, Guru Tua menolak mentah-mentah semua bujuk rayu itu. Baginya, persatuan bangsa di bawah kepemimpinan Soekarno adalah harga mati yang tak bisa ditawar. Ia tak sedikit pun tergiur kemilau materi jika hal itu harus dibayar dengan terkoyaknya keutuhan NKRI. Sikap tanpa kompromi ini menjadikan lembaga Alkhairaat sebagai benteng loyalitas yang tak tertembus peluru separatis, sekaligus mengukuhkan posisi Guru Tua sebagai jangkar kedaulatan di Timur Indonesia.
Abadi di Gerbang Mutiara
Loyalitas tanpa syarat yang dirawat dari jauh itu akhirnya bermuara pada sebuah pertemuan fisik yang hangat di Istana Cipanas. Di sanalah, dua pejuang ini saling bertatap muka. Soekarno menemukan penawar lelah dalam dukungan total sang ulama, sementara Guru Tua bisa melihat langsung sosok pemimpin yang selama ini ia sebut dalam syair dan doanya.





