Lomba makan kerupuk mulai marak dalam perayaan kemerdekaan pada 1950-an. Permainan rakyat ini kerap dimaknai sebagai pengingat kesederhanaan dan kesulitan pangan pada masa perjuangan.
Tag: Sejarah
Bangsa atau Negara: Siapa yang Merdeka pada 17 Agustus 1945?
Dua kata dalam Proklamasi—“atas nama”—pernah dipakai untuk meragukan kelahiran Indonesia. Delapan dekade kemudian, persoalannya justru apakah negara masih mewakili bangsanya.
Mengapa Soekarno Memilih Boedi Oetomo?
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional menyimpan perdebatan: mengapa Boedi Oetomo dipilih, bukan Sarekat Prijaji atau Indische Partij?
Muhaimin Desak NU Kembali Bermusyawarah
Muhaimin Iskandar mengkritik keras kepemimpinan PBNU terkait konflik internal dan sistem voting. Simak analisis historis suksesi kepemimpinan NU di sini.
Sejarah Panjang THR di Indonesia: Berawal dari Kebijakan Hadiah Lebaran 1951
Simak sejarah THR di Indonesia yang dicetuskan Perdana Menteri Soekiman pada 1951. Dari “Hadiah Lebaran” bagi PNS hingga menjadi hak wajib seluruh buruh.
Tebuireng hingga Al-Aqsa: Mengingat Kembali Akar Sejarah Hubungan Indonesia dan Palestina
Membaca kembali sejarah panjang diplomasi dan kedekatan spiritual Indonesia-Palestina. Mulai dari dukungan Mufti Amin al-Husseini hingga pengorbanan Muhammad Ali Taher.
Lagu Hilang Soepratman ‘Ratap Si Parto’ Ditemukan Lagi
Lagu “Ratap Si Parto” karya WR Soepratman ditemukan kembali di arsip Perpustakaan Nasional dan diperkenalkan ulang dalam peringatan Hari Musik Nasional di Surabaya. Karya era 1920-an ini mengungkap sisi lirih sang komponis Indonesia Raya.
Pesona Ahmad Soekarno: Mengungkap Akar Kekaguman Ali Khamenei
Menelisik jejak kekaguman Pemimpin Tertinggi Iran, Sayyid Ali Khamenei, terhadap sosok dan pemikiran proklamator Indonesia, Soekarno.
Jejak Haji Abdul Mu’thi: Penasihat Spiritual Proklamasi dan Jenderal Penjaga Akidah
Kisah Haji Abdul Mu’thi, ulama Muhammadiyah, penasihat spiritual Soekarno, dan Mayor Jenderal yang rela dipenjara penguasa demi mempertahankan prinsip keimanannya.
Jejak Laksamana Cheng Ho di Jalan Demak: Harmoni Jawa-Tionghoa di Klenteng Mbah Ratu Surabaya
Klenteng Mbah Ratu Sam Poo Tay Djien di Jalan Demak Surabaya berdiri sejak 1935 untuk menghormati Laksamana Cheng Ho. Menyimpan kayu yang diyakini bagian kapalnya dan rutin menggelar ibadah Jumat Legi bernuansa Jawa.
Tidak Ada Pos Lagi.
Tidak ada laman yang di load.









