Jejak Laksamana Cheng Ho di Jalan Demak: Harmoni Jawa-Tionghoa di Klenteng Mbah Ratu Surabaya

Klenteng Surabaya
Kotak kaca tempat disimpannya kayu dari kapal Laksamana Cheng Ho. - Samudra Fakta
Berdiri sejak 1935, Klenteng Mbah Ratu Sam Poo Tay Djien di Jalan Demak Surabaya menyimpan potongan kayu yang diyakini bagian kapal Laksamana Cheng Ho dan menjadi ruang harmoni lintas budaya.

Kota Surabaya memiliki sejumlah klenteng bersejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh. Salah satunya adalah Klenteng Mbah Ratu Sam Poo Tay Djien. Klenteng ini berada di kawasan Jalan Demak.

Berdiri sejak tahun 1935, klenteng ini dibangun untuk menghormati Laksamana Cheng Ho, seorang pelaut andal beragama Islam dan berdarah Tionghoa.

“Klenteng ini merupakan persembahyangan untuk Sam Poo Tay Djien (Tuan Besar Kasim) Cheng Ho,” ujar Ninik, salah satu pengurus klenteng, seperti dikutip Senin (16/2/2026).

Bacaan Lainnya
Kayu yang Diyakini Bagian Kapal Cheng Ho

Di dalam Klenteng Mbah Ratu terdapat benda istimewa untuk mengenang sosok Laksamana Cheng Ho, yakni sebuah kayu sepanjang 2,5 meter dengan lebar 0,5 meter.

Ninik menuturkan bahwa kayu yang disimpan dalam kotak kaca dan ditutup kain merah itu merupakan bagian kapal Laksamana Cheng Ho. Kayu tersebut disimpan di bawah altar utama klenteng.

“Ini bagian dari kapal Cheng Ho, disimpan di sini dan secara berkala dibersihkan,” tutur perempuan paruh baya ini.

Kayu tersebut awalnya dikubur di sebuah perempatan jalan yang lokasinya tidak jauh dari laut. Tempat itu kemudian dikenal dengan sebutan Jalan Prapat Kurung.

Karena perkembangan zaman, kuburan kayu itu dipindahkan ke selatan yang ditandai dengan dibangunnya klenteng, yang sekaligus menjadi tempat bersemayamnya kayu bagian dari kapal Cheng Ho.

Tradisi Jumat Legi dan Nuansa Jawa

Selain menyimpan benda bersejarah, klenteng yang dikenal dengan sebutan Klenteng Mbah Ratu ini juga sangat kental dengan budaya Jawa. Di Klenteng Mbah Ratu terdapat peribadatan malam Jumat Manis yang dalam bahasa Jawa disebut Jumat Legi.

“Kita ada ibadah malam Jumat Legi, sebulan sekali untuk menghormati Sam Poo Tay (Mbah Ratu). Saat malam Jumat Legi, di sini pasti akan ramai umat, bahkan lebih ramai dari ibadah Imlek,” ungkap Ninik.

Pos terkait