Lonjakan harga daging sapi menjelang Munggahan dan Ramadan 1447 H membuat pasar tradisional kembali menjadi arena tarik-menarik antara tradisi, pasokan, dan intervensi negara.
Pada Senin, 16 Februari 2026, harga daging sapi segar kualitas utama di sejumlah pasar terpantau naik tajam ke kisaran Rp140.000 hingga Rp150.000 per kilogram.
Momentum Munggahan—tradisi masyarakat menyambut Ramadan dengan hidangan istimewa—bertepatan dengan Cuti Bersama Imlek, memicu lonjakan permintaan dalam waktu bersamaan. Kombinasi ini menciptakan tekanan berlapis pada pasar ritel.
Di Pasar Cibubur, Jakarta Timur, harga daging paha belakang untuk rendang bahkan menembus Rp150.000 per kilogram. Di Pematangsiantar, Sumatera Utara, harga bertahan di sekitar Rp140.000 per kilogram. Secara rata-rata, terjadi kenaikan sekitar Rp20.000 dibandingkan harga normal Januari yang berada di kisaran Rp130.000 per kilogram.
“Hari ini puncaknya orang belanja Munggahan karena kebetulan libur Cuti Bersama. Dari subuh stok sudah diserbu pembeli, sementara harga dari rumah potong hewan memang sudah naik lebih dulu,” tutur H. Maman, pedagang di Pasar Cibubur, menggambarkan suasana pasar yang riuh sejak fajar.
Tradisi, Permintaan, dan Psikologi Musiman
Munggahan bukan sekadar agenda kuliner. Ia adalah simbol peralihan: dari keseharian menuju bulan puasa. Rendang, semur, dan aneka olahan daging menjadi menu yang hampir tak tergantikan. Di titik inilah hukum ekonomi bertemu dengan psikologi budaya. Permintaan melonjak, dan harga mengikuti.
Libur panjang Imlek mempertebal efek tersebut. Banyak keluarga memilih berbelanja pada hari yang sama karena waktu luang tersedia. Pola konsumsi terkonsentrasi dalam satu hari, bukan tersebar dalam beberapa hari seperti biasanya. Lonjakan serentak itu menciptakan tekanan instan pada pasokan.
Pasokan Ketat dan Realisasi Impor
Namun kenaikan harga tak semata-mata dipicu permintaan musiman. Pelaku usaha menyebut pasokan sapi hidup di tingkat feedlot sedang ketat. Harga dari rumah potong hewan sudah bergerak naik sebelum puncak Munggahan terjadi.
Pemerintah sebelumnya mengalokasikan tambahan kuota impor daging, termasuk sekitar 30.000 ton untuk periode awal tahun. Akan tetapi, realisasi distribusi dinilai belum sepenuhnya menjangkau pasar basah sebelum momentum belanja besar terjadi. Daging beku yang digadang-gadang sebagai penyeimbang harga belum membanjiri ritel tradisional secara memadai.
Ketika stok alternatif terbatas, pedagang tidak memiliki ruang untuk menahan harga. Daging segar tetap menjadi primadona. Konsumen, pada gilirannya, bersedia membayar lebih mahal demi menjaga kualitas dan tradisi.
Operasi Pasar dan Batas Intervensi
Operasi pasar yang digelar BUMN pangan sejauh ini belum memberi dampak signifikan di tingkat konsumen. Jumlahnya terbatas, distribusinya tak merata, dan tidak selalu hadir di pasar yang menjadi titik lonjakan permintaan.
“Operasi pasar ada, tapi jumlahnya terbatas. Mau tidak mau kami tetap beli di pasar meski harganya Rp150 ribu, karena butuh daging segar untuk keluarga,” ujar Sari (34), warga yang berbelanja di Pasar Kramat Jati.
Pernyataan itu mencerminkan dilema klasik: intervensi harga membutuhkan volume dan timing yang presisi. Jika pasokan tambahan datang terlambat atau tak cukup besar, efeknya hanya simbolik. Sementara pasar bergerak cepat, terutama ketika didorong tradisi tahunan yang nyaris pasti terjadi.
Menunggu Koreksi atau Bertahan Tinggi?
Pertanyaan kini bergeser pada 48 jam ke depan. Apakah harga akan mulai terkoreksi saat memasuki hari pertama puasa pada Rabu, 18 Februari 2026, ketika permintaan cenderung mereda? Atau justru bertahan tinggi hingga pekan pertama Ramadan jika distribusi logistik belum sepenuhnya normal pasca-libur panjang?
Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan pola serupa: lonjakan menjelang Ramadan, lalu stabilisasi bertahap. Namun setiap tahun memiliki variabelnya sendiri—ketersediaan sapi bakalan, kecepatan impor, hingga kelancaran distribusi antarwilayah.
Bagi konsumen, kenaikan Rp20.000 per kilogram mungkin terlihat sebagai angka. Tetapi bagi keluarga yang membeli dua hingga tiga kilogram untuk kebutuhan beberapa hari, selisih itu menjadi beban nyata. Di dapur-dapur sederhana, keputusan ekonomi selalu berirama dengan tradisi.
Munggahan, pada akhirnya, bukan hanya tentang harga daging. Ia tentang bagaimana pasar membaca kalender budaya, dan bagaimana negara berupaya menyeimbangkan kebutuhan publik dengan dinamika pasokan. Ramadan tinggal menghitung hari. Yang kini diuji bukan sekadar daya beli, melainkan ketepatan langkah dalam menjaga stabilitas pangan di tengah gelombang permintaan yang selalu datang, hampir tanpa kejutan, setiap tahun.***





