Rantai pasok putus akibat banjir di jalur Demak-Kudus membuat harga cabai rawit merah menggila pagi ini. Di tingkat eceran, harga diprediksi tembus Rp 120.000 per kilogram.
Rabu subuh (11/2/2026), suasana di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, tidak seperti biasanya. Pusat distribusi sayur mayur terbesar di Jabodetabek ini dilanda kepanikan harga. “Sambalflasi”—istilah untuk inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga cabai—resmi menghantam Ibu Kota pagi ini.
Berdasarkan pantauan tim Samudrafakta pada pukul 04.00 hingga 08.00 WIB, harga Cabai Rawit Merah (Setan) melonjak drastis ke kisaran Rp80.000 hingga Rp85.000 per kilogram, hampir dua kali lipat dari harga normal Rp45.000. Sementara Cabai Merah Keriting naik ke angka Rp 65.000 per kilogram.
Pasokan “Loyo” Akibat Banjir Pantura
Biang kerok lonjakan ini adalah gagal panen (puso) di sentra produksi Jawa Timur (Kediri, Blitar, Tuban) serta putusnya jalur distribusi Pantura.
Truk-truk ekspedisi yang biasanya tiba tepat waktu kini terlambat hingga belasan jam akibat terjebak banjir di jalur Demak-Kudus sejak Minggu lalu. Volume pasokan yang masuk ke Pasar Induk anjlok dari rata-rata 35 ton per malam menjadi hanya 18 ton pagi ini.
Haji Udin, bandar sayur di Los B Pasar Induk Kramat Jati, mengeluhkan kondisi barang yang tiba. “Barang susah, Mas. Truk dari Kediri telat 8 jam. Sampai sini barang susut (rusak) hampir 20% karena kepanasan di jalan,” ujarnya dengan wajah lelah, Rabu (11/2).
“Kalau saya jual murah, saya rugi bandar. Harga Rp 80 ribu ini sudah ‘harga teman’. Kalau siang nanti barang habis, bisa naik jadi Rp 90 ribu,” tambahnya.
Dilema Warteg: Sambal Ditakar Sendok
Dampak kenaikan di hulu ini langsung memukul hilir, terutama pengusaha Warung Tegal (Warteg) yang sangat bergantung pada cabai. Mbak Yati, pemilik Warteg ‘Barokah’ di kawasan Cililitan, mengaku pusing tujuh keliling saat belanja pagi ini.
“Orang makan di Warteg pasti minta sambal. Kalau sambal saya kurangi, pelanggan protes. Kalau saya kasih banyak, untung saya habis buat beli cabai doang,” keluh Mbak Yati.





