Akhirnya, ia mengambil langkah tidak populer demi bertahan hidup. “Terpaksa hari ini sambal saya takar pakai sendok kecil, pelanggan tidak boleh ambil sendiri kayak biasanya. Mau bagaimana lagi?”
Prediksi: 2 Minggu Masih “Pedas”
Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Tunov Mondro Atmodjo, mengonfirmasi kepada wartawan bahwa situasi ini belum akan membaik dalam waktu dekat.
“Tanaman cabai itu sensitif air. Terendam banjir 2 hari saja akar busuk. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah sentra produksi sedang ‘banjir panen’ air, bukan panen cabai. Stok menipis minimal sampai 2 minggu ke depan sampai air surut,” jelas Tunov.
Bagi ibu rumah tangga dan pedagang kecil, bersiaplah menghadapi kenyataan pahit: uang Rp 10.000 kini mungkin hanya cukup untuk membeli segenggam kecil cabai rawit—kurang dari 1 ons—di tukang sayur keliling.***





