Untuk pertama kali sejak pandemi 2020, Indonesia mencatat defisit neraca dagang. Bukan sekadar angka statistik — ada dampak nyata ke rupiah, harga barang, dan ketahanan ekonomi kita.
Kabar itu datang dari Badan Pusat Statistik pada 1 Juli 2026: neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 defisit USD 1,61 miliar. Defisit pertama setelah 72 bulan — atau enam tahun penuh — selalu surplus.
“Defisit pada Mei 2026 disebabkan, terutama pada komoditas migas,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026) lalu.
Sektor migas membukukan defisit USD3,76 miliar. Impor migas melonjak 70,78 persen secara tahunan, sementara ekspor migas anjlok 31,76 persen — kombinasi mematikan yang membalik neraca ke zona merah.
Apa Itu Neraca Dagang dan Kenapa Penting?
Neraca dagang adalah selisih antara nilai ekspor dan impor. Kalau ekspor lebih besar, hasilnya surplus — artinya lebih banyak uang masuk ke dalam negeri. Kalau impor yang lebih besar, hasilnya defisit.
Selama enam tahun terakhir, surplus neraca dagang menjadi bantalan penting bagi perekonomian. Surplus menyumbang pasokan dolar, menopang nilai tukar rupiah, dan menjaga cadangan devisa tetap solid.
Kepala Pusat Makroekonomi INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menyebut defisit ini sebagai sinyal serius: “Defisit neraca dagang Mei sebesar USD 1,61 miliar harus dibaca sebagai sinyal bahwa bantalan eksternal Indonesia mulai menipis.”
Pemerintah Optimistis, Ekonom Lebih Hati-Hati
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto kompak menunjuk lonjakan harga minyak mentah akibat konflik Timur Tengah sebagai biang kerok utama.
Airlangga berharap rencana gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran bisa meredam tekanan ini. “Tentu kita berharap rencana mereka untuk ceasefire itu kita lihat lagi dalam waktu satu sampai dua bulan ke depan,” katanya, Rabu (1/7/2026).
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso pun optimistis neraca akan berbalik surplus. “Perhitungan kami mestinya di bulan-bulan depan mulai bisa balik lagi ke surplus. Seharusnya, karena harga minyaknya sudah mulai turun,” katanya, Jumat (3/7/2026).





