Ia mengakui, impor minyak Juni 2026 masih mengacu pada harga bulan sebelumnya yang belum turun — artinya tekanan bisa berlanjut setidaknya sebulan ke depan.
Ekonom tidak seoptimistis pemerintah. Direktur Eksekutif Next Indonesia Center Herry Gunawan menilai defisit ini mencerminkan persoalan struktural: lemahnya produksi migas domestik. Ia bahkan menyebut defisit ini sulit disebut sementara, dan tanpa perbaikan signifikan dari Pertamina, tekanan terhadap neraca dagang berpotensi berlarut.
Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, memperkirakan defisit neraca perdagangan akan terus melebar hingga akhir 2026 — karena permintaan ekspor masih terhambat ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan perang dagang antarnegara.
Satu hal yang perlu dicatat: secara kumulatif Januari–Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus USD4,03 miliar, ditopang surplus nonmigas sebesar USD16,31 miliar. Posisi belum kritis — tapi arahnya perlu diwaspadai.***





