Ada penyintas yang harus mengakhiri pernikahannya hanya dalam dua bulan — dari situlah lima mahasiswa Surabaya mulai meneliti apa yang selama ini terlewat.
Di ruang sidang Pengadilan Agama Surabaya, ada kisah yang jarang disorot. Seorang perempuan muda mengajukan gugatan cerai ketika usia pernikahannya baru dua bulan, terhimpit konflik rumah tangga dan keterbatasan finansial.
Kasus semacam itu bukan pengecualian. Sepanjang 2025, Pengadilan Agama Surabaya mencatat 6.080 perkara perceraian, naik dari 5.644 perkara setahun sebelumnya. Enam belas di antaranya melibatkan penggugat yang baru berusia 19 tahun.
Fenomena itulah yang mendorong lima mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) urun memikirkan jalan keluar, bukan sekadar mencatat angka. Kayla Rizky Putri, Annisa Alizee, Farah Anisa, Shafa Annisa, dan Qisthi Vinaya menggagas penelitian bertajuk Life After the End: Logoterapi sebagai Penguatan Psikologis dan Sense of Purpose Wanita Pasca Perceraian Dini.
Proposal itu lolos pendanaan Kemdiktisaintek lewat skema PKM Riset Sosial Humaniora 2026.
Kesenjangan yang Selama Ini Luput
Kayla, selaku ketua tim, mengatakan mayoritas riset perceraian selama ini berhenti pada penyebab konflik atau dampaknya bagi anak. Dinamika psikologis perempuan muda yang bercerai dalam hitungan bulan jarang tersentuh.
“Di lapangan, kami menemukan kasus nyata penyintas muda yang harus bercerai di usia pernikahan dua bulan saja karena konflik dan keterbatasan finansial. Kesenjangan fokus riset inilah yang kami bidik,” urai Kayla.
Ia menambahkan, fase remaja akhir dan dewasa awal justru periode krusial pembentukan identitas serta perencanaan masa depan seseorang. Ironisnya, kelompok inilah yang paling sering luput dari kajian akademik.
Bukan Akhir, Melainkan Babak Baru
Alih-alih menelusuri akar konflik, tim ini memilih membedah cara membangun kembali makna hidup korban lewat pendekatan Logoterapi. Metode intervensi klinis ini dirancang melalui refleksi dan dialog terarah.
“Kami memilih frasa Life After the End karena ingin menggambarkan adanya harapan baru dan semangat melanjutkan hidup. Perceraian bukanlah akhir perjalanan hidup seseorang, melainkan titik awal babak baru yang penuh tujuan,” ungkap Kayla.





