Tim peneliti muda Universitas Airlangga sukses mengembangkan formulasi buah merah Papua sebagai kandidat terapi alternatif penyembuhan radang sendi secara komprehensif.
Keluhan nyeri kronis akibat radang sendi atau osteoartritis yang kerap menghantukan kelompok lanjut usia kini berpotensi mendapat solusi penyembuhan baru. Inovasi kesehatan masa depan berhasil dirancang dengan memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati dari wilayah timur indonesia.
Sekelompok mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) mengolah buah merah Papua menjadi kandidat terapi alternatif untuk mengatasi kerusakan tulang rawan. Proyek sains yang diinisiasi oleh para peneliti muda ini bahkan telah sukses lolos dan mendapat kucuran dana dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Ketua Tim PKM Unair Bayu Cahyo Bintoro mengatakan riset ini sengaja diarahkan untuk menutupi kelemahan pengobatan konvensional yang ada di masyarakat saat ini. Obat-obatan medis yang beredar dinilai hanya berfokus sebagai pereda nyeri sementara tanpa mampu menghentikan proses pengikisan sendi secara total.
“Penelitian ini kami arahkan untuk mencari alternatif terapi yang lebih aman, potensial, dan berbasis sumber daya lokal Indonesia,” kata Bayu saat memberikan paparan ilmiah di Surabaya, Selasa, 30 Juni 2026.
Keunggulan Zat Aktif Biodiversitas Lokal
Ihwal keunggulan produk, formula berbahan alam ini memiliki senyawa bioaktif tinggi seperti karotenoid, tokoferol, dan asam lemak. Gabungan komponen antioksidan tersebut diklaim mampu menurunkan stres oksidatif sekaligus memblokir jalur peradangan langsung pada pusat terjadinya osteoartritis.
Penggunaan obat antiinflamasi buatan pabrik dalam jangka panjang jamak diketahui memiliki efek samping kronis bagi pencernaan serta membutuhkan biaya yang relatif mahal. Terapi ekstrak buah merah ini hadir menawarkan metode penyembuhan yang lebih aman bagi organ tubuh pasien serta lebih terjangkau.
Pascapendanaan cair, tim mahasiswa gabungan lintas fakultas ini langsung bergerak melakukan pengurusan izin etik penggunaan hewan coba di laboratorium. Hingga berita ini ditulis, Direktur Jenderal Jaminan Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan belum memberikan tanggapan mengenai peluang hilirisasi industri farmasi untuk produk berbasis bahan alam tersebut.***





