Rupiah menembus level yang bahkan tak pernah disentuh saat Soeharto tumbang. Lalu kenapa tak ada yang panik?
Ada satu angka yang bikin banyak orang mengerutkan dahi belakangan ini. Rupiah bertengger di kisaran Rp 17.900 sampai Rp 18.000 per dolar AS sepanjang awal Juli 2026.
Bandingkan dengan Juni 1998, puncak krisis moneter yang menumbangkan Orde Baru. Saat itu rupiah “cuma” menyentuh sekitar Rp 16.650 per dolar AS pada titik terparahnya.
Artinya, secara angka di layar, rupiah hari ini justru lebih lemah ketimbang zaman krismon. Nominalnya sudah melewati rekor kelam yang dulu bikin sistem perbankan ambruk dan harga sembako melonjak dalam hitungan jam.
Tapi anehnya, tak ada antrean panjang menukar dolar. Tak ada rush di bank. Tak ada kepanikan. Kenapa?
Angka yang Sama, Cerita yang Beda
Jawabannya ada di satu kata yang sering diabaikan: persentase.
Pada 1998, rupiah tidak sekadar melemah, ia terjun bebas. Dari kisaran Rp 2.400-an per dolar AS pada pertengahan 1997, mata uang Garuda anjlok hingga menembus Rp 16.000-an dalam waktu kurang dari setahun.
Itu berarti depresiasi hampir 600 sampai 700 persen. Nilainya susut nyaris tujuh kali lipat hanya dalam hitungan bulan. Sebuah keruntuhan, bukan sekadar pelemahan.
Sekarang? Sepanjang semester pertama 2026, rupiah melemah sekitar 7,23 persen secara point to point. Dari kisaran Rp 16.700 di awal tahun ke level Rp 18.000-an di pertengahan tahun.
Jadi meski angkanya lebih besar, kecepatan dan kedalaman jatuhnya sama sekali beda kelas. Yang satu longsor, yang satu turun landai.
Kenapa Nominal Menipu
Membandingkan Rp 18.000 hari ini dengan Rp 16.650 tahun 1998 sebenarnya seperti membandingkan apel dengan apel yang sudah beda umur 28 tahun.
Nilai uang tergerus inflasi. Harga barang naik terus. Rp 16.650 pada 1998 punya daya beli yang jauh lebih besar ketimbang Rp 18.000 pada 2026.
Karena itu ekonom lebih peduli pada seberapa cepat dan seberapa dalam sebuah mata uang jatuh, bukan sekadar angka nominal di papan kurs. Kecepatan penurunan itulah yang menentukan apakah ekonomi sempat bernapas atau langsung tersedak.
Krismon 1998 adalah tersedak. Rupiah 2026 masih bernapas, meski agak sesak.
Bantalan yang Dulu Tak Ada
Perbedaan paling mendasar ada di fondasi ekonominya.
Pada 1997–98, Indonesia punya kombinasi maut: utang luar negeri swasta jangka pendek yang menggunung, sistem perbankan rapuh, dan cadangan devisa yang tipis. Ketika rupiah jatuh, beban utang dolar perusahaan meledak, bank-bank kolaps, dan negara tak punya amunisi untuk melawan.
Kondisi hari ini berbeda. Cadangan devisa Indonesia masih berada di level memadai, tercatat sekitar 146 miliar dolar AS pada akhir April 2026. Ini bantalan yang memberi Bank Indonesia ruang untuk masuk ke pasar dan meredam gejolak.
Sistem perbankan pun jauh lebih diawasi ketat pasca-reformasi. Pelajaran pahit 1998 melahirkan lembaga pengawas dan aturan main yang dulu tak ada.
Lalu Apa yang Sebenarnya Terjadi Sekarang?
Pelemahan rupiah 2026 lebih banyak didorong faktor dari luar ketimbang keruntuhan dari dalam.
Bank Indonesia menunjuk sinyal hawkish dari pejabat The Fed sebagai salah satu biang kerok. Ketika ada isyarat suku bunga AS tak lagi turun bahkan berpotensi naik, indeks dolar melonjak ke level tertinggi dalam setahun. Dolar menguat, hampir semua mata uang Asia ikut tertekan.
Dari dalam negeri, ada tekanan lain. Data PMI manufaktur Indonesia terkoreksi ke level 46,9 pada Juni 2026, sinyal bahwa sektor pabrik sedang lesu. Permintaan barang manufaktur turun, pesanan baru melemah.
Ditambah lagi, Indonesia sempat mencatat defisit perdagangan pertama sejak 2020. Ekspor melemah sementara impor tetap tinggi. Ini yang bikin permintaan dolar di dalam negeri terus terjaga.
Bukan Berarti Aman Sepenuhnya
Meski analoginya dengan 1998 terlalu berlebihan, bukan berarti lampu semua hijau.
Fitch Ratings sempat mengingatkan bahwa penurunan cadangan devisa yang berkepanjangan bisa menekan profil kredit Indonesia. Cadangan devisa memang sempat turun beberapa bulan berturut-turut sebelum naik tipis lagi di Juni.
Sejumlah ekonom juga mewanti-wanti soal potensi melebarnya defisit transaksi berjalan. Jika ekspor terus tertekan sementara pemerintah menggenjot pertumbuhan lewat impor, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut.
Artinya, hantu 1998 memang tidak sedang berdiri di depan pintu. Tapi bukan berarti rumahnya sudah kebal gempa.
Pelajaran dari Angka yang Menakutkan
Momen ini justru jadi pengingat penting soal cara membaca ekonomi.
Angka nominal di papan kurs memang gampang bikin jantung berdebar. Rp 18.000 terdengar lebih seram dari Rp 16.650. Tapi ekonomi bukan cuma soal angka yang terlihat, melainkan konteks, kecepatan, dan fondasi di baliknya.
Krisis 1998 mengajarkan Indonesia satu hal mahal: mata uang yang jatuh terlalu cepat, di atas fondasi yang rapuh, bisa meruntuhkan sebuah rezim. Rupiah 2026 lemah, tapi jatuhnya pelan dan pijakannya lebih kokoh.
Jadi lain kali melihat rupiah tembus rekor, tanyakan bukan cuma “berapa angkanya”, tapi “seberapa cepat sampai ke sana, dan apa yang menahannya”.
Karena di situlah letak beda antara pelemahan biasa dan sebuah krisis.***





