Saat nyantri ke Pasai dan menempuh perjalanan ibadah hajinya, Sunan Bonang menunjukkan ciri khas yang sangat berbeda dengan para penulis Muslim awal di Sumatera. Para penulis Sumatera sejak awal menggunakan huruf Jawi, yaitu huruf Arab yang disesuaikan dengan budaya Melayu; sementara Sunan Bonang tetap menggunakan huruf Jawa, sehingga mudah dikenal masyarakat terpelajar Jawa.
Sunan Bonang mengkader Sunan Kalijaga dan memiliki pengaruh besar dalam Islamisasi di tanah Jawa. Dia membangun peradaban Islam berbasis aksara Arab dan ha-na-ca-ra-ka. Tak kurang dari 20 Suluk diidentifikasikan sebagai karya Sunan Bonang. Dia juga menulis Tanbihul tentang ilmu tasawuf setebal 234 halaman dan mengarang kitab Damarwulan serta Primbon Bonang.
Sunan Bonang juga menulis Gita Suluk Wali, karya sastra berbentuk untaian puisi yang memaparkan tentang hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta, laksana laut pasang yang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu sampai hangus.
Karya lainnya adalah Suluk Jebeng. Dalam suluk ini terdapat tembang Dandanggula yang tak kalah terkenal. Suluk Jebeng lahir dari percakapan mengenai pengenalan diri sendiri agar berada di jalan yang benar—juga tentang pembentukan khalifah di bumi. Selain itu, Suluk Jebeng juga menggambarkan hubungan kuat yang saling mengenal antara Tuhan dengan manusia. Ada juga Suluk Khalifah yang berisi tentang perjalanan Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia.
Karya Sunan Bonang yang paling terkenal adalah Suluk Wujil, kitab tentang pengetahuan tasawuf yang lebih dalam dan lebih rahasia, yang dipengaruhi kitab Al-Shidiq karya Abu Said Al Khayr dan ditulis dalam aksara Jawa. Wujil berarti “cebol”, mengacu pada seorang tokoh terpelajar Majapahit yang meninggalkan agama Hindu untuk menjadi penganut Islam yang taat. Suluk Wujil berisi tentang ilmu kesempurnaan hidup dan mistik.
Suluk Wujil ditulis pada masa peralihan Hindu – Islam. Suluk ini menggambarkan kehidupan budaya, intelektual, dan keagamaan di Jawa Timur yang sedang berada pada masa transisi religiusitas dari Hindu menuju Islam.
Suluk Wujil memperlihatkan gaya bahasa yang tidak biasa dan terkesan “aneh”, karena menggunakan bahasa Jawa Madya yang pada saat itu tidak lazim digunakan dalam penulisan tembang. Dari segi puitika, Sunan Bonang menggunakan gaya tembang Aswalalita dan Dandanggula yang menyimpang dari patron penyair kebanyakan di zaman Hindu.
Di dunia arsitektur, Sunan Bonang berperan dalam menyediakan satu dari empat tiang penyangga atau sakaguru Masjid Agung Demak pada tahun 1478 M. Ada empat wali yang berperan dalam proses pembangunan Masjid Demak ini, yaitu Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga.
Menurut Aboebakar (1955), Sunan Bonang membuat sakaguru sebelah barat laut; Sunan Ampel membuat sakaguru sebelah tenggara; Sunan Gunung Jati membuat sakaguru sebelah barat daya; dan Sunan Kalijaga membuat sakaguru dari kepingan-kepingan kayu kecil yang yang diletakkan di sebelah timur laut. Sunan Bonang ditunjuk sebagai imam pertama Masjid Demak dan bergelar Imam Guru Suci.
Dakwah Sunan Bonang—yang dibantu oleh muridnya, Sunan Kalijaga—memberi warna lokal pada upacara keagamaan, seperti pada perayaan Idul Fitri, Maulid Nabi, dan peringatan Tahun Baru Islam. Sunan Bonang berhasil menciptakan asimilasi budaya manusia yang lebih beradab dan tidak meninggalkan ciri asli budaya Jawa.
Sunan Bonang adalah peletak dasar tradisi selamatan atau kenduri. Menurut Agus Sunyoto, tradisi selamatan ini mulai digagas oleh Bonang di daerah Singkal, Nganjuk. Di sana dia mengadakan kenduri untuk menandingi upacara Tantrayana yang yang dilakukan oleh petinggi Majapahit penganut Bhairawa-Tantra.
Seluruh warisan Sunan Bonang itu masih dipraktikkan oleh umat Muslim di Nusantara, terutama di Jawa, hingga saat ini. Berkat warisannya yang masih terpelihara hingga saat ini, maka tak heran apabila Habib Lutfhi bin Yahya menyebut Sunan Bonang sebagai rajawan para wali Allah di tanah Jawa.[—bersambung]
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





