Sunan Bonang (3): Sang Pembaharu Budaya, Membangun Peradaban Islam Berbasis Ha-Na-Ca-Ra-Ka

Pada masa tersebut, bonang umumnya digunakan untuk gamelan pengiring pertunjukan wayang. Selain itu, bonang juga digunakan oleh aparat desa untuk mengumpulkan warga dalam rangka penyampaian pengumuman dari pemerintah.

Aransemen Sunan Bonang—berupa musik bonang disertai lagu-lagu dengan syair bermuatan syiar Islam—dimainkan di Masjid Demak. Alunan nadanya membuat masyarakat penganut Kapitayan tertarik mendengarkannya, sehingga mereka datang ke masjid tempat di mana Sunan Bonang memainkan alat musiknya. Mereka bahkan ingin ikut memainkannya. Sunan Bonang mengizinkan mereka main, tetapi dengan syarat harus membasuh kaki di kolam yang dibangun di depan masjid dan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam masjid. Dengan cara itulah Sunan Bonang mengajak masyarakat untuk masuk Islam.

Aransemen Sunan Bonang membawa pesan-pesan zikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan rohani. Sentuhan Sunan Bonang akhirnya mampu menumbuhkan kesadaran beragama—khususnya Islam—kepada masyarakat. Dengan cara ini, agama Islam berhasil menyebar kepada masyarakat tanpa ada paksaan sedikitpun.

Bacaan Lainnya

Tembang-tembang gubahan Sunan Bonang terus berkumandang merdu di tengah masyarakat sampai saat ini. Salah satu tembang ciptaannya adalah Tamba Ati—yang banyak diaransemen ulang hingga saat ini. Dia juga menciptakan tembang macapat, seperti Sinom, Wirangrong, Kinanti, Asmaradhana atau Dandanggula.

Tembang macapat yang dibawakan Sunan Bonang berisi kisah para Nabi dan kaum arif terdahulu. Tembang macapat gubahan Sunan Bonang juga dipercayai dapat digunakan untuk meramal masa depan seseorang. Sunan Bonang juga mengganti nama dewa-dewa Hindu menjadi nama-nama malaikat serta nabi dalam Islam. Upaya ini untuk mendekatkan masyarakat Jawa pada waktu itu pada Islam, sehingga mereka mau memeluk Islam.

Salah satu gubahan tembang macapat Sunan Bonang yang termasyhur adalah Kidung Bonang, yang disampaikan dalam pupuh Durma. Isi kidung ini memiliki kemiripan substantif dengan Kidung Rumeksa ing Wengi karya Sunan Kalijaga. Keduanya merupakan tembang yang berisi semacam mantra untuk menangkis segala macam penyakit dan pengaruh jahat yang merugikan manusia.

Sunan Bonang juga dikenal sebagai dalang reformis yang berhasil membabar ajaran rohani Islam lewat pergelaran wayang. Menurut Primbon Prof. K.H.R. Mohammad Adnan, Sunan Bonang melakukan inovasi pertunjukan wayang dengan menambahkan beberapa tokoh dalam pertunjukannya, seperti kuda, gajah, harimau, garuda dan kereta perang.

Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Dia menggubah lakon wayang dengan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam, seperti pada kisah perseteruan Pandawa-Kurawa. Dalam mereformasi kesenian wayang ini Sunan Bonang tidak sendirian. Ia dibantu oleh Sunan Kalijaga, Sunan Prawoto, dan Raden Patah.

Sunan Bonang berperan dalam menyusun struktur gramatika atau tata bahasa pewayangan, sehingga bahasa yang disampaikan menjadi lebih dinamis dan dapat diikuti oleh masyarakat dari zaman ke zaman. Sementara Sunan Kalijaga mengubah sarana pertunjukan wayang yang awalnya dari kayu diganti dengan batang pisang, juga menambahkan blencong, kotak wayang, cempala, dan gunungan.

Sedangkan Sunan Prawoto berperan menambahkan tokoh raksasa, kera, dan skenario cerita. Sementara Raden Patah menambahkan tokoh gajah dan wayang Pramponan dan menggubah beberapa cerita yang diselaraskan dengan ajaran Islam, seperti lakon Petruk Dadi Ratu, Layang Kalimasada, Dewa Ruci, Pandu Pragola, Semar Mbarang Jantur, dan Mustakaweni.

Kelebihan Sunan Bonang dari wali yang lain adalah perhatiannya terhadap seni menulis atau sastra. Dia dikenal sebagai penyair profilik dalam dunia kesusatraan dan menulis risalah estetika sufi—atau yang umumnya dikenal dengan ilmu tasawuf.

Ahmad Baso, dalam Pesantren Studies 2b/Buku II Kosmopolitanisme Peradaban Kaum Santri Di Masa Kolonial Juz II Sastra Pesantren dan Jejaring Teks-Teks Aswaja-Keindonesiaan Dari Wali Songo Ke Abad 19 (2012), memaparkan, para Wali Songo bukan sekadar menyebarkan Islam di masyarakat, tetapi juga melakukan kerja sastra. Di antara Wali Songo yang mengajarkan agama Islam lewat karya sastra berupa suluk adalah Sunan Bonang.

Pos terkait