Kata Soemarsono, pertempuran Surabaya merupakan cerminan kekuatan rakyat Indonesia yang sesungguhnya. Para pemuda yang tergabung di dalam beberapa organisasi kelaskaran yang terlibat dalam pertempuran itulah, menurut Soemarsono, yang semestinya menjadi tentara rakyat.
“Mereka bersih dari beban masa lalu. Mereka bukan KNIL, KL, atau Peta. Mereka terdiri dari tukang becak, buruh, petani, pedagang yang mau berjuang untuk kemerdekaan,” kata Soemarsono, sebagaimana dikutip dari artikel berjulul Bintang Perang Surabaya (2011).
Tan Malaka, tokoh kemerdekaan Indonesia lainnya, juga tak sependapat dengan Sjahrir. Menurut Tan, pertempuran di Surabaya pecah lantaran semangat heroisme yang sangat mencolok. Pertempuran itu pun, menurut Tan Malaka, merupakan modal utama rakyat Indonesia untuk meraih kemerdekaan 100 persen tanpa jalan diplomasi—jalan yang digagas oleh Sjahrir.
Dalam brosur Moeslihat yang ditulis selang beberapa pekan setelah Sjahrir menulis Perdjoangan Kita, Tan Malaka menganjurkan pentingnya membentuk “volksfront” atau front rakyat. Front tersebut berjuang dalam tiga sektor: militer, politik dan ekonomi.
Front ini bukanlah sebuah pemerintahan, melainkan sebuah organisasi yang dikerahkan untuk memenangkan pertempuran. Organisasi tersebut bukanlah organ taktis pemerintahan, yang dibentuk untuk menghimpun kekuatan rakyat dalam satu kekuatan yang diorganisisir dengan rapi guna mencapai revolusi.
Bennedict Anderson, dalam bukunya Java in a Time of Revolution, melihat revolusi yang terjadi pada 1945—termasuk pertempuran 10 November di Surabaya—tidak bisa dilepaskan dari spirit kaum pemuda yang menempuh pendidikan lewat lembaga-lembaga bentukan Jepang dan pondok pesantren.





