“Understimate” dengan Kaum Santri dan Pertempuran Surabaya 10 November 1945
Sjahrir juga termasuk salah satu tokoh Indonesia yang tidak setuju dengan Perang Surabaya, 10 November 1945.
Sebagaimana diketahui, pertempuran tersebut membikin Sekutu kalang kabut. Satu jenderal mereka, A.W.S. Mallaby, tewas, sementara dua ribu tentara Sekutu terbunuh—baik yang berkebangsaan Inggris maupun dari divisi India. Pasukan Inggris juga mengakui Pertempuran Surabaya sebagai pertempuran terdahsyat yang pernah mereka alami seusai Perang Dunia II.
Sjahrir menyatakan kurang sepakat dengan jalan perjuangan yang ditempuh menggunakan kekerasan—sebagaimana pertempuran Surabaya. Sebab, dia mengaku khawatir, apabila perjuangan Bangsa Indonesia menggunakan jalan kekerasan, watak fasisme Jepang bakal terwariskan pada pemuda dan rakyat Indonesia.
Sjahrir, sebagaimana dia tulis dalam karyanya, Perdjoangan Kita, menganggap pertempuran Surabaya sebagai ‘amuk beringas’ belaka, tanpa landasan Ideologi.
Pendapat Sjahrir diamini oleh Anton Lucas dalam buku Radikalisme Lokal : Oposisi dan Perlawanan terhadap Pendudukan Jepang di Jawa (1942-1945), terbitan Syarikat Indonesia, 2012.
Soemarsono, pelaku sejarah Perang Surabaya, pertempuran 10 November 1945, membantah pendapat Sjahrir tersebut. Menurut Soemarsono, perjuangan rakyat Surabaya ketika itu bukanlah perjuangan amuk-amukan sebagaimana dituduhkan Sjahrir, tetapi merupakan perjuangan yang dibimbing ideologi untuk mempertahankan dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia yang bermartabat.





