Ogah Mengkader Kader Partai NU
Sebagai didikan Barat, Syahrir dikenal sosok rasional, modernis dan kurang suka dengan yang ‘berbau’ pesantren.
Dalam artikel berjudul Akar Pendidikan Kewarganegaraan di Pesantren, yang dimuat E-Journal Sunan Gunung Djati State Islamic University (UIN) Vol. XVII No. 2 2012/1433 H, sejarawan Ahmad Baso menulis bahwa Sjarir ogah mengkader anak-anak muda Partai NU dalam partainya, PSI.
Menurut Ahmad Baso, ketika Partai NU dibentuk di tahun 1952 untuk persiapan Pemilu 1955, Kiai Wahab Chasbullah—sebagian catatan lain menyebut Kiai Wahid Hasyim—pernah mendatangi Sutan Sjahrir dan meminta agar memasukkan kader PSI di NU, untuk kepentingan mengkader anak muda NU dan pesantren dalam dunia politik.
Namun, sebagaimana dicatat Baso, Sjahrir menolak. Dalam buku Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, Sol Tas—salah satu kawan akrab dan teman Sjahrir dalam berdiskusi di Belanda—alasan Sjahrir menolak karena, “Susah berurusan dengan orang-orang kaya gitu.”
Sjahrir disebut khawatir kader PSI yang bakal dikader oleh NU malah bakal menjadi bagian dari kader Nahdliyin, yang nantinya malah membesarkan NU, bukan PSI.





