Alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen (UK) Petra, menginisiasi Kampanye Sosial Pengelolaan Make Up Kedaluwarsa Secara Berkelanjutan untuk mengedukasi masyarakat mengenai penanganan limbah kecantikan secara aman.
Di balik industri kecantikan yang pesat, penumpukan limbah kosmetik kedaluwarsa jadi ancaman lingkungan tersembunyi di Indonesia. Berangkat dari isu ini, Vanessa, alumni DKV UK Petra, menghadirkan solusi kreatif dengan menyulap make up tak terpakai menjadi media lukis karya seni.
Di balik pesatnya pertumbuhan industri kecantikan, penumpukan limbah kosmetik kedaluwarsa menjadi ancaman lingkungan yang jarang tersentuh. Padahal banyaknya produk make up yang terbuang tanpa pengelolaan khusus kini menjadi salah satu tantangan tersembunyi penumpukan sampah di Indonesia.
Berangkat dari persoalan tersebut, Vanessa, alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen (UK) Petra, menginisiasi Kampanye Sosial Pengelolaan Make Up Kedaluwarsa Secara Berkelanjutan untuk mengedukasi masyarakat mengenai penanganan limbah kecantikan secara aman.
“Karya ini hadir untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya limbah kecantikan (beauty waste) dan memberi solusi nyata dalam memilah, serta mengolah sisa produk kosmetik secara ramah lingkungan,” cerita Vanessa, Ahad (1/11/2026).
Tak sekadar menjadi tugas akhir di atas kertas saat ia menyelesaikan kuliah, Vanessa berhasil mewujudkan karyanya melalui sebuah workshop edukatif yang merespons isu lingkungan dan maraknya budaya konsumerisme.
Dihadiri oleh sekitar 20 peserta berusia 20–35 tahun, workshop ini mengajak mereka memanfaatkan limbah kosmetik sebagai media melukis buket bunga kertas.
“Workshopnya mengutamakan metode yang aplikatif agar para peserta dapat merasakan dampak langsung dan memiliki keterikatan terhadap permasalahan limbah kosmetik,” imbuhnya.
Tak hanya melalui workshop, gadis kelahiran Surabaya ini juga menghadirkan beberapa media pendukung lainnya seperti pouch make up, acrylic keychain, brochure, dan poster.
Dalam pengelolaan make up kedaluwarsa, karya ini ternyata bukan pertama kalinya. Saat masa pandemi Covid-19 lalu, Vanessa pernah mendonasikan beberapa produk make up yang sudah tidak ia pakai kepada perias jenazah.
“Lebih karena dibuang sayang, jadi daripada menumpuk dan nggak terpakai, akhirnya aku donasikan ke perias jenazah yang lebih membutuhkan. Jadi produk make up yang kedaluwarsa itu bisa berguna lagi,” kata Vanessa.
Namun, ketika menggarap tugas akhirnya, Vanessa memutuskan untuk mengarahkan ide dan pengalamannya itu ke ranah seni visual. Berbekal ilmu DKV Advertising, Vanessa menerapkan proses Design Thinking untuk mengubah ancaman limbah kosmetik menjadi medium seni visual yang kreatif, aplikatif, dan mudah diterima awam.
“Selain relevan dengan bidang ilmu yang aku tekuni, gagasan ini terasa makin menarik karena kosmetik dapat langsung dimanfaatkan sebagai medium berkarya tanpa perlu diolah atau diubah bentuknya secara khusus,” urai Vanessa yang kini mengisi waktunya dengan freelance di bidang Graphic Design.
Lewat sentuhan kreativitas, Vanessa membuktikan bahwa kosmetik kedaluwarsa masih bisa punya nilai sebagai media seni, sebuah wujud nyata penerapan Education for Sustainable Development (ESD) di masyarakat.
“Aku ingin memberi solusi praktis yang mudah diterapkan, sehingga setiap orang bisa mulai mengambil langkah kecil untuk bumi dari meja rias mereka sendiri,” pungkasnya. ***





