Sedangkan peneliti Inggris, David C. Anderson, menyebut bahwa konsolidasi dan peta jaringan kultural dan kemiliteran aliansi santri dan tentara nasionalis ini. Jaringan ini kemudian berhimpun bersama Panglima Besar Jenderal Soedirman. Tokoh-tokohnya menjadi penasihat sang Jenderal Soedirman adalah KH. Wahid Hasjim, dr. Moewardi, dan Bung Tomo.
Pertempuran Surabaya 10 November 1945 juga menjadi momentum sejarah terbentuknya jaringan aliansi antara santri dan tentara nasionalis, dengan basis kaderisasi di Jawa Timur. Kekuatan ini solid dibangun di pesantren dan basis-basis laskar, serta sebagian dari kader kader Peta dulu.
Sejarawan Ahmad Baso menengarai, aliansi ini dipandang berbahaya bagi masa depan tentara-tentara kader KNIL dan politisi-politisi pendukungnya. Skema neokolonialisme negara-negara pemenang Perang Dunia II disebut Baso tidak suka aliansi nasionalis dari Jawa Timur ini, dan Sekutu menyebut mereka sebagai “aliansi muslim fanatik” dengan tentara kader fasis Jepang.
Maka dari itu, menurut Baso, diaturlah strategi untuk mematahkan aliansi tersebut. Caranya dengan mengadu mereka dengan ‘kaum kiri’ atau komunis yang dikoordinir oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sebagai bagian dari strategi tersebut, kata Baso, Menteri Pertahanan Moh. Hatta, Panglima Siliwangi Jenderal A.H. Nasution, dan kaum kiri yang sakit hati, seperti Amir Sjarifuddin dan Sjahrir, dibuat agar bisa bertemu dalam satu ide, kendati beda haluan politik.
Empat orang tersebut tidak mempunyai basis di Jawa, tetapi kompak merancang strategi bagaimana caranya menguasai Jawa Timur. Lalu, sebagaimana dicatat Baso, dibikinlah rusuh di Solo, yang kemudian merembet ke Madiun pada September 1948.





