Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa mengajak para kiai dan akademisi pesantren kembali aktif menulis kitab demi menjaga estafet keilmuan umat.
Upaya memperkuat fondasi literasi keagamaan di lingkungan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia kini mulai gencar dilakukan. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari persiapan menyambut kontestasi gagasan besar di forum tertinggi warga nahdliyin.
Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Zulfa Mustofa, secara aktif mengajak para kiai, akademisi, dan kalangan pesantren untuk menghidupkan kembali tradisi menulis kitab. Dorongan ini dinilai krusial guna memperkuat transmisi ilmu keislaman di tengah dinamika perubahan sosial masyarakat modern yang kian kompleks.
KH Zulfa mengingatkan bahwa kebesaran peradaban Islam di Nusantara tidak lepas dari warisan literatur para ulama terdahulu. Oleh karena itu, generasi masa kini memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk tidak sekadar membaca dan mengkaji karya masa lalu, melainkan juga memproduksi karya baru yang kontekstual.
“Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Karena itulah para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat,” ujar KH Zulfa Mustofa melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 8 Juli 2026.
Peluncuran Kitab Terbaru di Masjid Sunda Kelapa
Sebagai bentuk teladan nyata dari gerakan literasi ini, KH Zulfa dijadwalkan meluncurkan sekaligus membedah karya tulis terbarunya yang berjudul Ithafu Ummati Al Muqtafa. Agenda bedah buku ilmiah tersebut akan diselenggarakan pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 19.00 WIB di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.
Peluncuran karya yang mengusung tema “Persembahan untuk Umat Kanjeng Nabi SAW” ini diharapkan mampu memantik gairah forum bahtsul masail dan lembaga riset pesantren untuk lebih produktif melahirkan naskah akademik. Gerakan ini sekaligus menjadi refleksi penting menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU dalam menentukan arah pengembangan ilmu pengetahuan.





