Nadiem Pakai Jaket “Mulyono” di Sidang

Nadiem Makarim mengenakan jaket ojek online yang diberikan Mulyono, pengemudi yang dikenal sebagai "Gojek 001", saat sidang pembacaan pledoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026). - ISTIMEWA
Mengenakan jaket Gojek Mulyono saat sidang pleidoi, mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim pertanyakan tuntutan 18 tahun penjara.

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, menciptakan momen tidak biasa dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).

Saat menghadiri agenda pembacaan nota pembelaan atau pleidoi, Nadiem tampil mencolok dengan mengenakan atribut masa lalunya: jaket Gojek generasi pertama.

​Aksi Nyentrik Jaket Gojek Nomor 001 di Ruang Sidang

Jaket hijau bernomor lambung 001 tersebut ternyata milik Mulyono, pengemudi Gojek pertama yang bergabung sejak awal berdirinya perusahaan raksasa itu. Nadiem mengungkapkan bahwa sang pemilik memasangkan langsung jaket bersejarah itu sesaat sebelum dirinya melangkah masuk ke ruang sidang.

Bacaan Lainnya

​”Ini jaketnya Pak Mulyono, Gojek 001. Tadi waktu saya masuk beliau membuka jaketnya dan memasangkan ke saya,” ujar Nadiem dengan tenang di hadapan awak media di PN Tipikor Jakarta Pusat.

​Isyarat Politik dan Spekulasi Keterlibatan Jokowi

Langkah Nadiem memamerkan identitas Mulyono di depan publik memicu analisis tajam dari pengamat politik. Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai tindakan teatrikal ini mengandung pesan politis tersembunyi yang sangat kuat, bukan sekadar nostalgia bisnis.

​”Secara atraktif di hadapan wartawan, Nadiem memakai jaket Gojek milik Mulyono. Nadiem tahu dan se-Indonesia orang juga tahu, bahwa Mulyono identik dengan Jokowi. Apakah Nadiem ingin menyeret nama Jokowi dalam kasusnya?” tutur Erizal, dikutip dari RMOL, Rabu (3/6/2026).

​Menurut Erizal, sejarah mencatat Nadiem bukan hanya sekadar pembantu presiden biasa, melainkan figur kesayangan Joko Widodo. Selama menjabat, hampir seluruh kebijakan strategis sang menteri mendapat restu penuh dari Istana. Hubungan erat ini berbeda jauh dengan dinamika politik tokoh lain seperti Hasto Kristiyanto atau Tom Lembong yang berujung pada oposisi.

​”Apa pun yang diinginkan Nadiem, langsung dikabulkan Jokowi. Tak ada cerita Nadiem Makarim dan Jokowi berlawanan. Sebelum Pilpres, saat Pilpres, atau setelah Pilpres. Setelah kasus ini diusut Jaksa, maka baru dihubung-hubungkan dengan Jokowi. Bahkan, nama Jokowi juga disebut dalam persidangan,” tambah Erizal.

​Melawan Tuntutan 18 Tahun Penjara Kasus Chromebook

Aksi simbolis lewat jaket Gojek ini menjadi pembuka sebelum Nadiem membacakan pleidoi formalnya. Persidangan ini bergulir akibat dugaan kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management di lingkungan Kemendikbudristek. Jaksa Penuntut Umum sebelumnya melayangkan tuntutan yang sangat berat, yakni hukuman fisik 18 tahun penjara serta kewajiban membayar uang pengganti fantastis senilai Rp 5,6 triliun subsidair 9 tahun kurungan.

​Di hadapan majelis hakim, Nadiem secara tegas menepis anggapan publik yang menyebut dirinya keliru karena bersedia menerima pinangan sebagai menteri pada 2019 lalu, di saat ia sudah mapan sebagai bos besar Gojek.

​“Banyak yang berkomentar sejak kasus ini dimulai, ‘Salah Nadiem cuman satu, mau menjadi menteri padahal sudah nyaman di Gojek.’ Saya mau menanggapi komentar ini dengan pertanyaan sederhana. Kalau semua orang berprestasi menolak amanah untuk mengabdi karena sudah nyaman, apa jadinya masa depan negara kita?” tegas Nadiem.

​Ia menambahkan bahwa stabilitas finansial yang telah ia miliki justru mempertebal rasa tanggung jawab moralnya untuk mengabdi kepada negara. Pengorbanan finansial, reputasi pribadi, hingga ketenangan keluarga sengaja ia pertaruhkan demi mendorong lompatan besar bagi generasi penerus bangsa.

​Kekhawatiran Jangka Panjang Atas Kriminalisasi Birokrasi

Selain membela diri, Nadiem mengungkapkan kekhawatiran mendalam mengenai masa depan tata kelola pemerintahan. Ia menilai proses hukum yang menimpanya berpotensi memicu ketakutan luar biasa (chilling effect) di kalangan profesional muda dan figur berprestasi dari sektor swasta untuk ikut andil dalam birokrasi.

​Nadiem merasa terpukul karena dedikasi lima tahun di kabinet, yang bahkan sempat membuahkan penghargaan tertinggi Bintang Mahaputera Adipradana dari Presiden Jokowi, justru berujung pada ancaman jeruji besi.

Sidang kasus korupsi Chromebook Kemendikbudristek ini kini memasuki babak paling krusial. Strategi komunikasi Nadiem yang memadukan argumen yuridis formal dengan simbolisme politik jaket “Mulyono” menegaskan bahwa perkara ini bukan lagi sekadar sengketa hukum administrasi, melainkan panggung pertaruhan reputasi, integritas, dan warisan politik di akhir era pemerintahan yang membesarkannya.***

Pos terkait