MUI Desak DPR Bahas RUU Pidana LGBT, Kiai Cholil: Dulu Malu-Malu, Kini Terang-terangan

RUU Pidana LGBT
Kiai Cholil Nafis menilai fenomena LGBT kini semakin terbuka di ruang publik.--Dok MUI digital

Menurut dr Bayu, perilaku yang berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit meliputi hubungan anal reseptif tanpa kondom, berganti-ganti pasangan seksual, hubungan seksual dengan pengguna narkoba suntik, penggunaan narkotika sebelum aktivitas seksual (chemsex), hingga kekerasan seksual.

Ia mengatakan perilaku tersebut meningkatkan risiko penularan berbagai infeksi menular seksual (IMS), seperti HIV, sifilis, gonore, klamidia, hepatitis B, dan hepatitis C.

Selain itu, terdapat pula risiko kanker yang berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus (HPV), di antaranya kanker anus, kanker orofaring atau tenggorokan, serta kanker penis.

Bacaan Lainnya

“Tidak hanya itu, perilaku seksual berisiko juga dapat menimbulkan trauma fisik dan infeksi lokal, seperti fisura anus, proctitis atau radang rektum, abses perianal hingga inkontinensia tinja,” ujarnya.

Risiko Penularan HIV Lebih Tinggi

Dr Bayu menjelaskan, secara biologis hubungan seksual anal memiliki risiko penularan penyakit yang lebih tinggi dibandingkan hubungan vaginal.

Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi struktur anatomi rektum yang memiliki lapisan mukosa lebih tipis, kaya pembuluh darah, dan lebih mudah mengalami luka mikro saat penetrasi.

“Selain itu, saat penetrasi ke anal, mukosa rektum mudah mengalami mikrolesi yang menjadi jalan masuk langsung bagi virus dan bakteri,” katanya.

Ia menambahkan, rektum tidak memiliki pelumas alami sehingga gesekan saat hubungan seksual lebih mudah menimbulkan luka sekaligus mempermudah perpindahan patogen penyebab penyakit.

“Rektum tidak memproduksi cairan pelumas, sehingga gesekan meningkatkan risiko luka sekaligus memudahkan perpindahan patogen,” ujarnya.

Mengacu pada data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, dr Bayu menyebut risiko penularan HIV melalui satu kali hubungan anal reseptif tanpa kondom diperkirakan mencapai 1,4 persen atau sekitar 1 dari 71 kasus. Sementara pada hubungan vaginal reseptif, risikonya sekitar 0,08 persen atau 1 dari 1.250 kasus.

Ia menambahkan, risiko penularan infeksi menular seksual lain seperti sifilis, gonore rektal, dan hepatitis B juga lebih tinggi pada perilaku seksual berisiko.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan