Menikmati Toleransi dalam Kuliner Khas Kota Kretek

Rasa dagingnya cenderung manis, karena dimasak dengan campuran gula merah—selain juga dengan ketumbar, jinten, bawang merah, bawang putih, serta bumbu rahasia yang sudah diturunkan sejak generasi pertama.

Sedangkan sop kerbau tersaji dalam wadah porselen mungil. Aroma bawang putih yang menjadi topping-nya membuat rasa gurih kuahnya semakin kuat. Potongan daging kerbau yang empuk, bercampur taburan tauge segar yang krenyes-krenyes renyah, terasa ringan dan segar, apalagi dinikmati di cuaca dingin hujan seperti akhir-akhir ini.

Bacaan Lainnya

Para penyaji sate dan sop kerbau masih mempertahankan cara yang sama seperti asalnya, agar keotentikan rasanya tetap terjaga. Makan semangkuk sop kerbau pastilah kurang, karena porsinya yang mungil. Apalagi rasanya yang enak, tak akan pernah cukup jika makan hanya semangkuk.

Seporsi sate kerbau berisi 10 tusuk dibanderol Rp38 ribu. Sedangkan nasi sop Rp15 ribu. Jika Anda sedang berkunjung ke Kudus, pastikan Sate Kerbau Menara masuk dalam daftar utama wisata kuliner Anda. Warung ini buka mulai pukul 17.00 WIB sampai habis. Semakin malam, warung makin ramai. Yang datang dari berbagai golongan masyarakat: para peziarah dari luar kota maupun warga setempat yang muslim maupun bukan, mulai dari kelas atas hingga menengah.

Inilah jejak-jejak toleransi yang masih bisa dinikmati sampai saat ini hingga masa yang tak terbatas nanti. Di warung sate kerbau ini kita melihat wajah Indonesia sebenarnya: sebuah bangsa besar yang toleran.

(Septia)

Pos terkait