Siswa SMK di Kudus menerima ancaman usai menulis surat terbuka kepada Presiden Prabowo menolak program makan bergizi gratis.
Muhammad Rafif Arsya Maulidi, siswa SMK NU Miftahul Falah Kudus, mengaku menghadapi intimidasi secara virtual. Ia menerima teror setelah menulis surat terbuka untuk Presiden Prabowo Subianto.
Dalam suratnya, Arsya menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan meminta pemerintah mengalihkan anggaran tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan guru.
Ancaman dari Oknum Pemasok Makanan
Menurut Arsya, ancaman tersebut datang melalui pesan langsung (DM) di Instagram. Pengirim pesan, yang diduga kuat merupakan karyawan Satuan Pelayan Pemenuhan Gizi (SPPG) pemasok MBG ke sekolah Arsya, melontarkan kalimat ujaran kebencian.
Pelaku, kata Arsya, bahkan memamerkan sosok pelindung atau “bekingan” untuk menakut-nakuti siswa kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual tersebut.
”Saya dapat pesan di Instagram, isinya ancaman dari seseorang yang mengaku punya bekingan, tetapi saya merasa saya tidak bersalah,” tegas Arsya.
Meskipun merasa tidak nyaman, Arsya tetap teguh pada pendiriannya. Ia mengaku lebih lega jika melepaskan jatah MBG miliknya agar pemerintah bisa menggunakan dana tersebut untuk kesejahteraan para guru di sekolahnya. Kasus ini dengan cepat viral setelah beberapa akun Instagram mengunggah ulang cerita Arsya, yang langsung memicu gelombang dukungan dari publik.
Ruang Aman Berpendapat Terancam
Kejadian ini menyorot lemahnya perlindungan terhadap kebebasan berpendapat bagi kelompok pelajar. Pengamat pendidikan, Imam Zanatul Haeri, Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) dan Wakil Sekretaris Jenderal Himpunan Sekolah dan Madrasah Islam Nusantara, mengkritik keras insiden ini.
Ia menilai sistem yang ada saat ini gagal melindungi anak-anak yang berani bersuara kritis.
”Siswa kita tidak punya ruang aman untuk berpendapat di ruang publik. Keamanan fisik, digital, dan psikososial mereka sangat rentan ketika mengkritik program pemerintah. Begitu pula guru,” cuit Imam melalui akun X @zanatul_91 pada Senin (6/4/2026).
Dinsos Kudus Turun Tangan Beri Perlindungan
Merespons polemik ini, Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kudus, Putut Winarno, bergerak cepat. Ia berjanji akan melindungi Arsya sepenuhnya. Putut menilai langkah Arsya menulis surat terbuka merupakan bentuk pemikiran kritis seorang anak yang harus pemerintah hargai, bukan justru dibungkam.





